Tema: Sumpah Pemuda Modern

Sumpah Pemuda memang sudah berlalu. Pada bulan Oktober 1928, para pemuda bangsa Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda untuk menyatukan berbagai keberagaman di Indonesia di bawah satu atap bahasa, yaitu Bahasa Indonesia. Namun, sampai hari ini perjuangan identitas belum berakhir. Kemerdekaan bahasa ternyata belum sepenuhnya didapat karena ada intervensi bahasa asing yang nyelonong begitu saja melalui arus globalisasi.

Sebelum membahas mengenai identitas dan kemerdekaan bahasa, sebelumnya kita bahas dulu definisi bahasa. Apa itu bahasa? Secara kasar, fungsi bahasa adalah alat komunikasi untuk menyampaikan informasi. Tanpa bahasa, manusia pun tak ada. Bahasa memanusiakan manusia. Pendapat ini didukung sepenuhnya oleh bapak linguistik modern, Noam Chomsky, dalam hipotesisnya mengenai perolehan bahasa yaitu Alat Perolehan Bahasa (Language Acquisition Device/LAD) yang hanya dimiliki oleh manusia. Keberadaan bahasa membedakan manusia dari makhluk yang lainnya. Sebuah bangsa dikenal karena bahasanya. Edward Sapir (1884-1939), seorang ahli bahasa pun mengatakan bahwa bahasa adalah prasyarat perkembangan sebuah budaya. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa bahasa adalah alat komunikasi untuk mentransfer informasi yang tersusun atas bunyi dan kata yang merefleksikan gender, identitas, dan budaya.

Globalisasi membuat dunia menjadi tanpa batas dan berinteraksi dengan berbagai bangsa di dunia membutuhkan pemahaman dan nilai dalam berbahasa dan kemajemukan. Bentuk baru komunikasi global ditunjang oleh kemajuan teknologi informasi, penyebaran informasi bertambah cepat bersama dengan budaya yang dibawa oleh penutur bahasa. Situasi ini juga memicu dilema bagaimana menyeimbangkan keberagaman budaya dengan kesatuan nasional mengingat budaya asing juga mampu mengintervensi atau mengikis budaya lokal melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Keberadaan berbagai bangsa di dunia dengan budaya dan bahasa yang dibawanya membuat komunikasi menjadi rumit. Terdapat ribuan bahasa di dunia dan komunikasi di era global adalah hal yang tak terelakkan. Karena tidak ada manusia yang mampu memahami banyak bahasa, kita harus memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi, satu bahasa global harus ada untuk menjembatani keberagaman bahasa. Akhirnya dipilihlah Bahasa Inggris untuk menjembatani keberagaman itu.

Saat ini bahasa global kita adalah Bahasa Inggris. Mengapa Bahasa Inggris? Kekuatan politik Kerajaan Inggris lah yang menjadi alasan Bahasa Inggris berhasil menjadi bahasa global hingga hari ini. Bahasa tak akan ada tanpa ada penuturnya. Perkembangan politik adalah alasan utama mengapa bahasa itu berkuasa. Bahasa berkembang dan menyebar melalui kekuatan penuturnya. Menurut Pitman (1873) dan Russel (1801) yang dikutip oleh Crystal (2012:78), kekuasaan Inggris meliputi sepertiga bumi dan seperempat populasi bumi. Pada awal abad ke-19, Inggris menjadi negara dengan industri dan perdagangan termaju di dunia yang mana akses pengetahuan hanya dapat dilakukan jika kita menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa teknologi.

Sama halnya seperti berbagai bangsa yang menyusun populasi bangsa Indonesia, Bahasa Indonesia pun pada mulanya adalah campuran dari berbagai bahasa di dunia. Mulai dari Bahasa Sansekerta, Bahasa Arab, Bahasa Persi, Bahasa Turki, Bahasa Indo-Eropa, dan terutama Bahasa Inggris untuk saat ini. Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau dan suku bangsa dengan berbagai bahasa yang dibawanya. Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah tonggak bersejarah untuk mengukuhkan kesatuan bahasa Indonesia. Sumpah ini berbasis pada semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang berarti ‘Berbeda-beda tetapi satu’. Latar belakang sejarah, politik, perdagangan, dan budaya menjadi alasan dalam memilih bahasa persatuan. Ada hal yang menarik mengapa Bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu yang menurut survei Belanda pada tahun 1931 hanya memiliki penutur sebanyak 500.000 orang. Mengapa Bahasa Melayu, bukan Bahasa Jawa saja? Alasannya terletak pada penutur Bahasa Melayu yang tersebar di seluruh Indonesia sementara penutur Bahasa Jawa hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa saja. Hal ini menandakan ada keterwakilan bahasa persatuan dalam wilayah nusantara. Begitu juga dengan Bahasa Inggris. Alasan mengapa Bahasa Inggris dipilih menjadi bahasa global karena penutur Bahasa Inggris tersebar merata di permukaan bumi.

Sayangnya, kecepatan perkembangan teknologi jauh melebihi perkembangan bahasa. Penggunaan Bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa asing, terutama Bahasa Inggris merupakan dampak negatif kemajuan teknologi dan merupakan bukti bahwa perkembangan Bahasa Indonesia belum mampu menyamai perkembangan teknologi. Apa buktinya? Apakah kalian tahu apa padanan kata yang tepat untuk kata gadget? Adakah padanan kata yang tepat untuk kata proofread? Akankah semua kata-kata seperti fleksibel, komputer, kalkulator, akan di-Indonesia-kan begitu saja? “Hey, kamu pake smartphone ga? Minta line dong.” Sepenggal percakapan itu adalah bukti bahwa Bahasa Indonesia belum berkembang sepenuhnya. Tentu saja belajar bahasa asing tetap perlu agar kita tidak tersingkir dan terisolasi karena perbedaan komunikasi.

Penyisipan bahasa asing terutama Bahasa Inggris ke dalam obrolan semakin sering terjadi sejak pesatnya perkembangan teknologi. Di sini negara yang teknologinya maju menguasai penuh penggunaan bahasa. Ini bukti bahwa imperialisme bahasa (linguistic imperialism) masih berlaku. Berbagai alasan orang menyisipkan bahasa asing ke dalam obrolan mereka entah itu demi gengsi agar terlihat keren atau memang padanan kata dalam bahasa itu belum ditemukan. Jika yang terjadi karena gengsi, lambat laun identitas berbahasa satu Bahasa Indonesia akan terkikis. Inilah yang ditakutkan oleh pemerintah kita sampai-sampai pemerintah mebentuk Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), mengadakan Bulan Bahasa dan Sastra tiap bulan Oktober, hingga menambah jam pelajaran Bahasa Indonesia di kurikulum pendidikan.

Globalisasi yang tak mungkin ditolak ini bukan tanpa efek samping. Karena perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi yang canggih dan kemunculan media massa, bahaya bahasa global akibat globalisasi semakin tak terelakkan. Aitchison (2013) memberikan teori mengenai kematian sebuah bahasa. Kematian bahasa dapat terjadi melalui dua hal, yaitu bunuh diri bahasa (suicide language) dan pembunuhan bahasa (language murder). Pertama, bunuh diri bahasa (language suicide)terjadi ketika sebuah bahasa tidak memiliki padanan kata yang tepat yang mana penuturnya menggunakan kosakata bahasa yang secara sosial lebih dominan. Seperti dalam kata gadget itu. Sampai hari ini kita belum menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang tepat untuk itu. Inilah yang akan terjadi jika kita sebagai penutur asli Bahasa Indonesia tidak bangga berbahasa Indonesia. Kedua, pembunuhan bahasa (language murder) terjadi ketika sebuah bahasa “dikepres” dan tidak digunakan lagi. Ini adalah fenomena sosial yang lazim terjadi pada pernikahan antar suku bangsa yang mana penggunaan suatu bahasa diabaikan karena tidak dibutuhkan di komunitas itu.

Hal ini tidak saja memicu kekhawatiran pemerhati bahasa di Indonesia. Gerakan mahasiswa di Perancis pada tahun 1968 yang mengajak rakyat membebaskan penuturan (laberate expression) adalah bukti kekhawatiran sekelompok mahasiswa mengenai identitas bahasanya. Bahasa Perancis adalah salah satu bahasa yang paling murni pun telah berusaha menjaga bahasanya dari “pencemaran” bahasa asing. Konon, penggunaan kosakata asing yang sudah ada dalam bahasa Perancis itu ilegal. Mereka beranggapan bahwa jika kita ingin merdeka sosial, kita harus lebih dulu merdeka penuturan. Walaupun tak bisa dipungkiri, keberadaan bahasa asing yang diserap juga memperkaya bahasa itu sendiri.

Mengapa perlu memuliakan bahasa Indonesia? Indonesia dibangun atas elemen kebahasaan, di sini bahasa Indonesia menjadi asal-usul sejarah pembangunan NKRI. Karena itu Bahasa Indonesia merupakan pondasi suatu bangsa. Bahasa Indonesia mempersatukan kebersamaan dan nasionalisme suatu kelompok komunitas, selain elemen ras, dan agama. Para pendiri bangsa Indonesia membangun bangsanya di atas elemen bahasa. Tidak seperti bangsa lain yang membangun bangsanya dengan pendekatan ras, seperti politik apartheid di Afrika atau pendekatan agama seperti pendirian negara Pakistan. Sangat mustahil jika membangun Indonesia melalui pendekatan ras dan agama karena kemerdekaan Indonesia tak lepas dari jasa pahlawan dari berbagai suku bangsa dan agama. Inilah alasan mengapa memuliakan Bahasa Indonesia adalah sebuah bentuk nasionalisme. Apa yang dilakukan oleh para pendiri bangsa dalam menyatukan bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda tak lain hanyalah sebuah usaha untuk memperjuangkan pembebasan poskolonialime. Poskolonialisme adalah efek psikologis yang ditimbulkan setelah kolonialisasi dengan menganggap “produk” yang dibawa oleh kolonialis lebih unggul daripada “produk” bangsa sendiri. Inilah realitanya. Merdeka secara politik saja tidak cukup, kita juga harus merdeka secara bahasa.

Apakah bahasa asing itu pemecah atau persatu bangsa Indonesia? Jawaban terletak pada bagaimana kita memperlakukan kedua bahasa tersebut. Selain mempelajari bahasa asing sebagai bahasa pergaulan internasional, tugas kita sebagai generasi muda adalah memuliakan Bahasa Indonesia agar tidak terjajah di negerinya sendiri. Apa yang dapat kita lakukan untuk memuliakan Bahasa Indonesia agar Bahasa Indonesia tetap seksi dan menjadi raja di negeri sendiri? Caranya dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar setidaknya di Bulan Bahasa dan Sastra tanpa harus menyisipkan kosakata asing ke dalam percakapan.

Daftar pustaka:

Aitchison, Jean. 2013. Language Change. Cambridge: Cambridge University Press.

Arifah. (2013, November). Bahasa dan Nasionalisme. Majalah Dikbud, 06, 05.

Crystal, David. 2012. English as a global language. Cambridge: Cambridge University Press.

Duranti, Alessandro. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge UniversityPress.

Hamad, Ibnu. (2013, November). Momentum Memuliakan Bahasa Indonesia. Majalah Dikbud, 06, 25-27.

Maryani, Yeyen. (2013, November). Bahasa Indonesia dan Identitas Bangsa. Majalah Dikbud, 06, 06-07.

Simanjuntak, Mangantar. 1990. Teori Linguistik Chomsky dan Neurolinguistik Wernicke: Ke Arah Satu Teori Bahasa yang Lebih Sempurna. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Link asli ada di SINI.