Tema: Sikap Toleransi Sebagai Upaya Menciptakan Kebahagiaan

Bagi bangsa yang majemuk, pluralisme adalah syarat eksistensi. Hanya dengan mengakui kemajemukan Indonesia bisa bersatu. Pengakuan atas kemajemukan inilah hakikat Pancasila. Seorang pluralis meyakini kepercayaannya tanpa menjelekkan kepercayaan lain dan menuntut kebebasan beragama dijamin dalam sistem hukum negara. Di sisi lain, pluralisme juga memiliki tantangan dalam pengelolaan keberagaman, terutama pluralitas agama supaya jangan terjebak dalam relativisme.

Pluralisme tidak mensyaratkan pengakuan pada kebenaran agama lain. Masing-masing meyakini kebenaran agamanya, namun tetap menerima keberadaan agama lain. Bagaimana mungkin meyakini suatu agama jika tidak yakin bahwa itu paling benar? Inilah relativisme internal yang akan menjadi destruktif jika dibawa ke ranah eksternal karena menempatkan agama lain sebagai lawan. Untuk itu diperlukan pemahaman mengenai filsafat perenialisme, esoterisme, dan eksoterisme sebagai landasan toleransi.

Filsafat Perenial: Berfilsafat dalam Beragama

Latifah mengutip pandangan AK Coomaraswarny bahwa filsafat perenialisme adalah pengetahuan yang selalu ada dan bersifat universal.[1] Filsafat perenialisme menawarkan pendekatan fenomenologi dan studi agama pada tataran normatif dan historis.

Nur[2] mendefinisikan fenomenologi sebagai studi pendekatan dengan cara melihat berbagai gejala dari bidang yang sama antara berbagai agama sehingga diperoleh hakikat yang sama dari gejala yang berbeda. Gejala yang berbeda ini menampilkan keberagaman agama yang dilihat dari dua aspek, yaitu normatif dan historis. Secara normatif, pemahaman kitab suci secara tekstual. Tanpa pemahaman tekstual, kitab suci tak bisa dipahami secara kontekstual. Sedangkan secara historis, pemahaman kontekstual menemukan tempatnya secara kultural, psikologis, dan sosiologis.[3]

Esoterisme dan Eksoterisme

Dalam filsafat perenial, agama mempunyai dua dimensi, yaitu esoterik dan eksoterik.[4] Keduanya berasal dari bahasa Inggris, esoteric yang berarti “yang dalam” dan exoteric yang berarti “yang luar”.[5] Tanpa dimensi esoterik, agama tak memiliki esensi, tanpa dimensi eksoterik agama tak dikenal karena tak berwujud.

Bagi Schuon, kesatuan agama hanya akan terjadi pada level esoterik yaitu level yang tak berbentuk (the formless Essence). Pada level eksoterik, yang dapat dilakukan oleh agama-agama adalah dialog dan diplomasi berdasarkan rasa hormat dalam harmoni, bukan kesatuan.[6] Dimensi eksoterik bersifat eksklusif dan absolut meski secara intelektual adalah relatif.[7] Relativitas inilah yang menjelma menjadi relativitas agama yang mana kebenaran agama itu relatif tetapi secara Esensi satu. Eksoteris adalah wujud sekaligus tabir dari esoteris. Ia ibarat pondasi bangunan. Jika pemeluk agama menolak keberadaan esoterik (Esensi) maka agama akan rapuh karena hanya ada kulit luar yang dangkal dan penuh sentimentalitas. Jika agama hanya berisi sentimentalitas, isinya hanya ego identitas dan kepentingan semata.

Bagi Schuon[8], bentuk (agama) seharusnya membiarkan sesuatu yang lain berada di luar dirinya, yaitu sesuatu yang tak tercakup dalam batas-batasnya. Singkatnya, agama harus mengakui kebenaran dirinya sebagai relatif karena masing-masing agama memiliki potensi klaim yang sama-sama absah dan valid serta berdiri sejajar satu sama lain. Karena kesejajaran dan keserupaan bentuk itu, maka perbedaan antarbentuk harus diimbangi dengan kesamaan atau titik temu yang ada di antara mereka. Kesatuan memang secara inheren ada karena semua bermuara pada Yang Maha Mutlak. Dengan begini, tak ada lagi peliyanan karena semua bentuk (agama) bersifat relatif dan tak bisa mengklaim sebagai satu-satunya kebenaran.

[1] Latifah, Tati. “Perenialisme” dalam Jurnal Tsarwah, Volume 1, No. 1, Januari-Juni 2016, hlm 87.

[2] Nur, Muhammad. “Kontribusi Filsafat Perenial dalam Meminimalisir Gerakan Radikal” dalam Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 9, No. 2, Desember 2015, hlm 281.

[3] Nur, Muhammad. “Kontribusi Filsafat Perenial dalam Meminimalisir Gerakan Radikal” dalam Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 9, No. 2, Desember 2015, hlm 282.

[4] Bahri, Media Zainul. “Esoterisme dan Kesatuan Agama-Agama” dalam Jurnal Titik Temu, Volume 2, No. 1, Juli-Desember 2009, hlm 117.

[5] Bahri, Media Zainul. Esoterisme dan Kesatuan Agama-Agama” dalam Jurnal Titik Temu, Volume 2, No. 1, Juli-Desember 2009, hlm 119.

[6] Nasr, ed, The Essential of Frithjof Schuon dalam Media Zainul Bahri. Hlm 121.

[7] Schuon, Esoterism as Principle and as Way dalam Media Zainul Bahri. Hlm 121-2.

[8] Schuon, The Transcendent Unity of Religions, dalam Media Zainul Bahri. Hlm 123-4.