https://id.pinterest.com/pin/460352393132010907/

Tema: Potret Masyarakat Urban

Dulu aku mengenal hiruk pikuk kehidupan kota hanya di televisi dan novel yang aku baca. Tak kusadari bahwa apa yang ditayangkan di televisi adalah kenyataan yang telah dikonstruksi. Tak selalu menyingkap realitas yang sebenarnya, apalagi sisi kelam sebuah kota maju yang gemerlap. Tak semua realitas yang ditampilkan terwakili dalam satu tayangan. Pun dengan budaya hedonisme di novel teenlit yang kubaca. Sajian hedonisme dalam novel hanyalah cerita pelipur lara bagi anak kampung yang tak pernah merasakan manisnya kehidupan kota. Sedangkan, bagi anak kota, cerita novel mereduksi dinamika kehidupan sosial mereka.

Bukankah di kota indah? Ternyata tak semanis novel teenlit. Keramaian yang yang sesak, massa hilir mudik yang tak terhingga dengan ketergesaan dan tatapan yang hampa. Semua tampak gemerlap dan semerbak wangi. Namun, semua itu kosong dan tampak penuh ketidakpastian terhadap apa yang diperjuangkan. Bahkan anjing hasil rescue-an para pejuang satwa bernasib lebih beruntung daripada anak jalanan kota. Potret menyedihkan di balik kedok hingar bingar kemajuan dan pembangunan yang pesat.

Beruntung di tengah kerasnya kota aku tinggal hangat bersama seorang wanita pemilik kos, Bu Mila. Ia perawan tua yang berkomitmen tak ingin menikah. Aku memanggilnya ibu dan memang sikap keibuannya mengingatkanku pada ibu kandungku di kampung. Menurut cerita orang, beberapa pria silih berganti untuk melamar ibu, tapi ditolaknya dengan halus. Banyak yang mengira ibu punya kelainan seksual, bahkan sempat diisukan lesbian karena memang tak pernah tertarik dengan pria. Desas desus bersimpang siur tak kalah seru. Katanya, ibu dulu adalah gadis kampung yang diculik oleh mucikari. Ia datang ke kota ini pada usia sebelas. Sempat kena razia dan karena usianya yang sangat belia, ia dimasukkan ke rumah rehabilitasi. Sayangnya, trauma pelecehan seksual tak membuatnya lebih baik. Ia justru sempat masuk ke dunia prostitusi selama sekian tahun. Hingga usianya menginjak 35, ibu berhenti menjual diri. Ia dijadikan anak angkat oleh Bu Retno yang hidup sendiri. Hingga akhirnya Bu Retno meninggal dan rumah inilah yang diwariskan untuk ibu.

Desas desus itu aku dengar ketika menguping pembicaraan Bu Kasim, tetangga kami yang digelari Ratu Gosip. Apa saja berita tentang kampung dan sekitarnya, pasti sumbernya dari dia. Telinganya selalu awas dengan berita dan informasi terkini. Meskipun Bu Mila digospi miring, beliau sangat murah hati. Ia tak pilih kasih dalam memperlakukanku dengan Dian, anak angkatnya yang ia pungut di jalan. Aku juga dianggapnya anak sendiri. Ibu selalu memasak untuk kami bertiga dan menyantapnya bersama di ruang tengah. Kami sempat tinggal bertiga selama setahun setengah yang membuat kami semakin akrab. Tak hanya padaku, pada anak-anak jalanan di kota pun ibu bersikap baik. Sampai akhirya, kos terisi penuh dan ibu tak mungkin memasakkan untuk seluruh anak kos. Jika aku sendiri yang dianakemaskan, macam mana yang lain tak akan iri?

***

Dua tahun sudah aku kos di rumah Bu Mila. Ariana segera akrab denganku ketika ia menginjakkan kaki di kos. Aku kuliah di jurusan Sastra Inggris dan ia mengambil Hubungan Internasional. Gedung kuliah kami hanya berbeda lantai dan tiap ke kampus kami berangkat bersama. Kami berbagi semua yang kami alami, cinta, kuliah, hutang, termasuk gosip di kampus. Sejenak kami mencari angin di kantin sambil memesan dua mangkuk es campur.

“Tahu gak Na, Mariska kemarin ketangkep basah indehoi di diskotik,” seru Ariana bersemangat.

“Eh masa sih? Apa iya? Malah gue denger ada gosip anak kampus kita bakar diskotik. Kata dosen Pengantar Linguistik sih gitu. Ada anak yang ngebakar diskotik, jangan-jangan itu dia lagi,” timpalku.

“Bukan gitu. Itu kasusnya si Ando, anak psikologi. Cerita sebenarnya dia gak ngebakar. Dia tuh lagi teler di diskotik, abis minum alkohol. Tangannya lagi megang rokok, eh tuh rokok lepas kena karpet yang ketumpahan alkohol. Jadi deh kebakaran. Lagian kebakaran kecil, gak ada korban jiwa,” terang Ariana.

“Justru yang heboh itu berita indehoinya Mariska. Ternyata bener ya apa kata orang-orang, dia itu ayam kampus. Ngapain dia mau kayak gitu kalo gak dibayar. Lagian ya kampus kita tuh terkenal dengan ayam kampusnya,” suara Ariana agak merendah.

Tapi apa harus berbuat senista itu? Seakan Ariana bisa membaca pikiranku, dia menelisik mataku dalam-dalam dan melanjutkan argumennya.

“Jangan lo kira mereka yang jadi ayam kampus anak orang susah. Hape ilang aja lo nuduh petugas kebersihan, kan? Buang jauh-jauh deh stigma orang miskin pasti mencuri. Kemiskinan memang dekat dengan kejahatan tapi gak menutup kemungkinan orang kaya gak gelap mata juga, kan? Kemarin laptop Sari ilang aja, siapa coba yang ngambil? Emang ada petugas kebersihan di situ? Toh, kemarin hape gue juga sempet ketinggalan di toilet, siapa yang nemuin? Petugas kebersihan malah.”

“Bukannya yang kuliah di sini orang berada semua? Emang gak cukup apa uang jajan dari ortunya kok sampe jual diri gitu.”

“Yaelah Na. Jangan tanya uang jajan deh, Na. Kiriman gue sebulan yang di atas UMR aja masih kurang. Lo pikir cukup sehari dua ratus ribu? Bukan masalah ke nominal uang yang diterima tiap bulan, lebih ke bagaimana cara kita mengelola uang. Lagian juga ya, anak kampus kita kan pada glamour dan stylish. Lha untuk bisa begono, apa gak pake duit?”

Siapa tahu dia hanya terjebak lingkaran setan dan gak tahu bagaiamana keluar. Atau, bisa jadi dia dulu korban pelecehan seksual. Bukankah tidak semua korban pelecehan seksual bisa sembuh? Ada yang trauma dan tidak ingin menikah. Ada pula yang justru menjadi pelacur karena berpikir sudah nista. Sudah terlanjur basah, menyelam saja sekalian. Pikiranku menerawang, tiba-tiba aku ingat cerita masa lalu ibu.

“Gue jadi mikir, masih kuliah aja udah begini gimana nanti kalo uda kerja ya? Elo sih enak, sering dapat uang berjuta-juta hanya dari lomba, belum lagi blog lo yang rame pengunjung. Tapi, terlepas sebanyak apapun uang, klo dikhayalin emang gak akan pernah ada suntuknya,”tambahnya beberapa saat setelah ia menyeruput es campur.

“Gaji tuh yang penting menutupi kebutuhan sehari-hari. Gak ada gaji yang gak cukup, yang ada gaya hidup yang gak menyesuaikan gaji,” sanggahku dengan opini idealis.

“Hidup kan gak cuma memenuhi kebutuhan dasar aja, tapi juga memenuhi kebutuhan gengsi. Di Jakarta gengsi yang digedein. Makanya kita perlu ini apapun caranya,” ucap Ariana nyengir sambil menggesekkan jempol dan jari telunjuknya.

“Sampe kapan lo mau mikir kayak gini? Lo gak akan bertahan dengan idealisme lo itu. keseringan orang idealis itu bukan karena kuat iman atau gak doyan duit, tapi karena belum pernah liat duit dalam jumlah gede,” pungkas Ariana cekikikan.

Aku hanya tersenyum geli. Emang uang Tuhan sampe dibelain setengah mati. Aku segera menghabiskan es campur yang tersisa hingga bersih. Pikiranku kembali pada Mariska yang katanya ayam kampus. Sosoknya yang bak Barbie memang mudah membuat cowok terpesona. Bagi cewek yang melihat pesonanya, pasti akan merasa kalah pamor dan iri. Perawatan yang mahal pasti. Belum lagi rambutnya yang tampak jinak, tak rusak oleh angin yang menerpa. Semuanya itu mudah jika punya modal.

***

Waktu terus bergulir. Aku selalu sibuk kuliah, menulis, dan pulang. Aku hanya menjadi anggota di organisasi kampus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tak membuatku menjadi mahasiswi sibuk sehingga selalu ada waktu untuk menulis. Itu kenangan dua tahun yang lalu. Mahasiswi cemerlang dengan IQ 160 sangat mungkin untuk lulus dalam kurun waktu 3,5 tahun. Belum termasuk deretan penghargaan sebagai mahasiswi berprestasi dan penghargaan atas berbagai perlombaan yang telah kumenangkan. Puluhan lomba aku sikat, ratusan peserta aku bantai habis. Tak hanya itu saja kebanggaanku. Aku turut bangga dengan sederet foto wisuda kawan-kawanku yang lulus lebih lama. Bahkan sangat lama hingga menghabiskan tujuh tahun untuk meraih gelar sarjana strata satu. Tanpa bantuanku, teman-temanku tak akan mengenakan toga dengan bangga bersama orangtuanya. Tanpa jasaku, tak mungkin mereka bisa dengan mudah lulus sidang skripsi.

Sebelum skripsi dikirim, mereka mendatangiku untuk berkonsultasi. Memastikan tak ada yang salah dan terlewat hingga siap dieksekusi di sidang skripsi. Tak hanya mengoreksi calon skripsi saja, aku pun menawarkan bidang baru untuk digarap agar tak mengulang-ulang tema yang terdahlu. Kegiatan ini bermula ketika mereka tahu aku mendapat IP 4 di semester pertama. Lambat laun, kegiatan ini menjadi tradisi menjelang ujian. Sebelum ujian banyak teman sekampus datang ke kos. Daripada mereka memohon jawaban di kala ujian, mendingan begini bukan? Bagiku, menyontek dan memberikan contekan adalah dosa besar. Aku hanya pelit berbagi jawaban, bukan pelit berbagi ilmu.

Ya iya dong. Aku kan mahasiswi berprestasi dan gelar itu satu paket dengan mahasiswi teladan. Masa iya mahasiswi memberi contekan. “Dengan terdaftar sebagai mahasiswa, kita telah menyandang status sebagai kaum intelektual. Untuk itu, mahasiswa seharusnya berjuang atas pemikirannya sendiri. Mencontek hanya akan menodai status tersebut dan itu sama saja menjual idealisme,” begitulah sekelumit pidato yang aku sampaikan di depan ribuan mahasiswa ketika dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi.

***

“Jangan gitulah, anggap aja ini hadiah dari gue. Gak enak seumur hidup gue harus dikejar hutang budi,” ujar Anton ketika menerima setumpuk kertas berjilid dariku.

“Gue hanya ingin bantu lo. Gak ada pikiran pengen imbalan. Sejujurnya gue cuma kasihan sama lo,” jawabku seraya menolak halus.

“Atau mau smartphone? Smartphone lo ilang kan? Udah ikhlasin aja, gue ganti yang baru,” pungkasnya sambil tersenyum.

Seketika pikiranku jadi terang. Serasa ada siraman air dingin di tengah teriknya siang. Tahu saja dia isi hatiku. Aku memang sedang mencari smartphone baru karena bulan depan aku resmi bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah. Tak apa. Kuterima saja hadiah darinya. Anggap saja kenang-kenangan. Simbiosis mutualisme. Bukankah sesama teman harus saling membantu dan memberi?

Tak tega rasanya melihat Anton, mahasiswa FISIP jurusan Hubungan Internasional yang sudah tiga semester proposal skripsinya ditolak dosen. Entah karena dosen tersebut kelewat perfeksionis, atau memang proposalnya dianggap kurang berbobot. Tahun ini adalah tahun keenam dia kuliah dan masih berkutat dengan skripsinya yang belum kelar. Ayahnya barusan meninggal dan sekarang ia tinggal berdua bersama ibunya yang masih mengajar di salah satu sekolah dasar negeri di Tangerang. Beruntung dia bisa berbisnis rokok elektrik. Usahanya lancar, penghasilannya di atas UMR Jakarta, dan mampu menghidupi dirinya sekeluarga. Tak sulit baginya mentransfer uang jutaan ke rekeningku sebagai balas jasa kebaikanku. Meski semula aku hanya niat membantu, namun baginya segala kebaikan harus ada timbal baliknya.

Awalnya karena kasihan, lama-lama aku ketagihan. Tanpa persaingan yang ketat, mudah bagiku untuk mendapatkan uang berjuta-juta selama seminggu. Toh menulis pekerjaan yang sepele. Asal sudah menguasai materi, hanya butuh waktu tiga jam bagiku untuk menulis sebuah karya ilmiah. Ditambah lagi senyum bangga melihat mereka yang berhasil wisuda. Bukankah kesuksesan mereka kesuksesanku juga? Sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi sesamanya dan ilmu tak akan lekang oleh waktu. Hatiku mengembang. Aku senang bisa membantu teman. Walau aku tak pernah meminta imbalan atau pasang tarif, mereka ternyata tahu diri untuk membalas budi.

***

Akhir studiku itu pun membuatku pisah dengan Ariana. Namun, kami masih tetap berhubungan melalui media sosial. Aku kini menyewa apartemen agar lebih tenang dan privasiku terjaga. Tradisi intelektual yang kupupuk selama kuliah menjelma menjadi pundi-pundi uang yang tak ada habisnya. Waktuku semakin padat karena banyaknya pesanan tulisan. Baik itu tulisan untuk mengulas produk dari perusahaan, seperti ulas gadget, ulas produk kecantikan, hingga lomba blog yang membuatku mampu bertamasya tanpa keluar uang sepeser pun. Pernah sekali aku mendapat penghargaan langsung dari kementrian pendidikan karena tulisan-tulisankku di media massa memenangkan perlombaan jurnalistik yang diadakan oleh kemendikbud. Rasanya memang benar bahwa penulis adalah kuli tinta Tuhan dalam menebar ilmu dan kebaikan.[1] Duh, aku jadi tersanjung. Suara angkot yang menjerit mencari penumpang dan kerlap-kerlip lampu jalan kota seakan bersorak setuju dengan pikiranku.

Namaku pun sudah beredar dari mulut ke mulut. Kupasang besar-besar banner dengan judul “Rumah Intelektual” karena dari rumah inilah lahir sederet kaum intelektual. Banner itu memenuhi gambar halaman utama di website yang menyediakan jasa pembuatan skripsi dan tesis. Aku pun seringkali jadi rujukan para mahasiswa S-2 meskipun aku hanya lulusan S-1 Sastra Inggris. Wawasanku yang luas dan prestasiku yang bejibun adalah modal untuk meyakinkan klien bahwa aku tak akan mengecewakan mereka. Sudah beberapa karya tulis aku garap untuk mereka dengan hasil yang sangat memuaskan. Tentunya harga mengikuti rasa. Dan bagi mereka, harga bukanlah suatu masalah. Pernah suatu kali aku bertanya pada mereka yang menggunakan jasaku, tahu dari mana mereka tentang aku? Mengapa mereka begitu yakin aku mampu menggarapnya? Mereka cukup mengatakan, “Kami mendapat info dari orang yang mengenal Anda.”

Lambat laun, apa yang aku lakukan ini menjadi profesi informal … dan melenceng. Semula aku memberikan konsultasi gratis dengan biaya seikhlasnya, kini waktuku banyak tersita hingga aku memberikan produk instan. Seseorang tak cukup hanya jika mempunyai harga diri, tetapi juga harga jual. Itulah pemikiranku saat ini sejak aku sadar bahwa kemampuan menerjemahkan pikiran ke dalam rangkaian kata memang sudah selayaknya dihargai. Pemikiran idealisku tergerus denyut kota yang kuat berdetak. Pragmatisme segera mengambil alih bangku kosong dalam otakku. Kota telah berhasil membuat idealismeku mencair dan perlahan menguap ke angkasa. Kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya.[2] Kota metropolitan dengan sejuta impian yang menggiurkan sebelum aku tinggal di sini dan akan menjadi sejuta kenangan setelah aku hengkang nanti.

Apakah ini sebuah penistaan akan kesakralan ilmu pengetahuan? Oh, tidak. Ini Jakarta, bung. Segalanya butuh uang dan harus bisa ditukar dengan uang. Aku hanya meringankan mahasiswa yang sudah frustrasi dengan studinya. Pun, membantu orangtuanya yang sudah keluar biaya yang tidak sedikit. Ini kan jasa intelektual yang bisa menjadi pilar akademis. Birokrasi pembuatan karya tulis bisa dipangkas dan mahasiswa tak perlu repot menyambangi dosen pembimbing. Dengan berkonsultasi padaku, mahasiswa tak perlu merasakan nyalang tatapan dosen dan getirnya coretan perbaikan skripsi. Orang cerdas adalah orang yang mudah beradaptasi dan mampu mengikuti gerak zaman. Kondisi yang serba sulit dan ada otak yang oke punya, apa saja bisa didayagunakan. Apa salahnya?

Aku masih menikmati pekerjaanku ini hingga akhirnya ada sekotak paket berisi sebuah laptop Apple keluaran baru. Di kotak paket tertulis nama pengirim Riana Putri, salah seorang klienku yang sedang mengambil S-2 Manajemen. Di situ terselip sepucuk surat yang bertuliskan: Apa gue bilang? Kecerdasan lo terlacurkan juga haha. – Ariana.

Aku tersentak. “Ariana?” Desisku.

Jadi selama ini…??

[1] Ungkapan Umberto Eco (1987)

[2] Ungkapan Seno Gumira Ajidarma