Judul: Gempa Literasi: Dari Kampung Untuk Nusantara

Penulis: Gol A Gong & Agus M. Irkham

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan Pertama: Februari 2012

Tebal: xvi + 525 hlm

ISBN: 978-979-91-0385-7

Buku yang ditulis oleh dua pegiat literasi ini berdasarkan pengalaman pribadi bagaimana mengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat) dan Komunitas Baca. Kebanyakan tulisan Gol A Gong bersifat empiris yaitu menulis apa yang ia lihat, alami, dan lakukan. Sedangkan Agus M. Irkham menulis tentang pentingnya literasi secara teoritis dan ilmiah. Namun, keduanya tetap berpijak pada pengalaman nyata.

Literasi bukan sekadar melek huruf, tapi merupakan dasar penopang bagi pembelajaran di masa datang. Literasi memberikan peranti, pengetahuan, dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kualitas hidup, untuk lebih dapat memberikan kemungkinan berpartisipasi dalam aktiviteksas bermasyarakat dan membuat pilihan-pilihan informasi yang akan dikonsumsi (hlm 367).

Rumah Dunia binaan Gol A Gong mendapat anugerah TBM Kreatif dari Diknas RI. Ini dikarenakan Rumah Dunia memosisikan diri sebagai agen perubahan. Tradisi gonjlengan dilakukan untuk membahas isu-isu sosial secara kritis. Dalam balutan suasana informal dan kasual, tradisi diskusi ini lebih tepat sasaran ke masyarakat.

Warisan kultural yang sudah beberapa waktu berjalan di Rumah Dunia ini kemudian kami ATM-kan (amati, tiru, modifikasi) dalam bentuk kegiatan yang lebih rutin. Kami menawarkan tema-tema diskusi kepada narasumber yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, dosen, tukang ojek, ibu rumah tangga, pejabat tinggi sekelas kepala dinas, hingga ketua RT. Inilah yang disebut transformasi. Pernah pada 2005, kami berdiskusi kenapa Serang Mall harus dibangun dengan menghancurkan gedung tua Makodim di alun-alun Kota Serang. Bahkan diskusi ini tidak berakhir di Gonjlengan Wacana saja. Para peserta sepakat untuk berunjuk rasa. Kemunculan diskusi pentingnya membangun gedung perpustakaan dan gedung kesenian di Banten dengan segera pun bermula dari gonjlengan. Itulah gunanya TBM, selain tempat belajar, juga membentuk kita untuk kritis (hlm 323).

Penulis yang pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Forum TBM 2010-2015, Gol A Gong menjalankan Rumah Dunia berdasarkan spirit berbagi. Minimal 2,5 persen dari honor tulisan disumbangkan ke Rumah Dunia. Para relawan dan pengurus Rumah Dunia adalah donatur. Tak hanya spirit berbagi, laporan keuangan pun transparan. Siapapun berhak tahu sumber keuangan Rumah Dunia. Tak heran, di usianya yang ke-10 (2002-2011) mendapat kepercayaan yang luar biasa dari masyarakat dan pemerintah. Donaturnya tak hanya dari kalangan akar rumput, tetapi juga perusahaan besar.

Dari sinilah terlihat perbedaannya, TBM konvensional dan TBM mandiri. TBM konvensional adalah TBM bentukan pemerintah yang menginduk ke Pusat Komunitas Belajar Masyarakat (PKBM) dan memiliki ideologi seragam, yaitu membantu pemerintah memberantas buta huruf. Mereka tidak kritis menyikapi situasi dan kondisi perpolitikan di kotanya dan tidak memosisikan TBM sebagai agen perubahan.

Sedangkan TBM mandiri adalah TBM partisipasi masyarakat yang juga dikenal sebagai komunitas baca. Ia berasal dari partisipasi langsung masyarakat dengan ideologi ingin berbagi dan bersikap sebagai agen perubahan. Dengan demikian, ideologi komunitas literasi juga beragam.

Rumah Dunia adalah jenis komunitas berbasis gerakan literasi. Menurut Shiho, gerakan literasi ini dilatarbelakangi ideologi buku sebagai alat untuk mewujudkan keadilan sosial. Bagiku, visi (ideologi) Rumah Dunia adalah membentuk dan mencerdaskan generasi baru lewat seni (hlm 279-280).

Salah satu fasilitasnya adalah kartu anggota dengan tawaran menggiurkan: diskon belanja di Aneka Swalayan Serang dan diskon untuk pembelian buku di Tiga Serangkai Serang dan Cilegon. Untuk lingkup Indonesia, jika anggota lebih dari 1.000 orang, fasilitas diskon belanja buku di TB Gramedia akan diupayakan (hlm 358).

Setiap anggota juga berpeluang mendapatkan pelatihan menulis dari Gong Publishing, bertempat di Rumah Dunia atau di sebuah kota yang banyak anggotanya. Juga menghadiri peluncuran dan bedah buku dengan narasumber penulis nasional. Anggota yang berdomisili di Banten akan mendapatkan fasilitas pinjaman buku gratis di Rumah Dunia (hlm 359).

Gol A Gong menawarkan peluang dan kemudahan. Dengan cara bergotong royong, Rumah Dunia bisa eksis di dunia kepenulisan. Secara tidak langsung, kita ikut memperbaiki Indonesia dan kampung halaman yang kita cintai. Tentunya, memiliki unit usaha mandiri yang sehat akan sangat membantu menopang operasional dan agenda kegiatan TBM.

Gol A Gong juga membocorkan rahasia kreatif Rumah Dunia yang patut ditiru agar bisa eksis dan berkembang. Rahasianya terletak pada menu kegiatannya yang beragam. Rumah Dunia mempunyai menu reguler harian dan menu mingguan, serta kalender acara pada hari-hari besar yang melibatkan warga lebih luas lagi seperti acara se-Banten dan nasional. Kegiatan reguler diadakan agar warga sekitar mencintai dan merasa memiliki. Belajar di TBM juga ilmunya aplikatif sehingga bisa menjadi solusi dalam mencari pekerjaan.

Hal penting lainnya adalah konsistensi kegiatan dan komitmen para relawannya. Kemajuan TBM tidak mungkin tercapai jika relawannya mata duitan. Untuk itulah wajar jika Rumah Dunia berlandaskan spirit berbagi.

Tak hanya itu, dalam buku ini juga Gol A Gong memberi cara bagaimana merekrut relawan dan membangun jaringan seperti membina hubungan baik dengan penerbit, masyarakat, dan komunitas baca lainnya.

99 esai bergizi ini disajikan kepada pembaca sebagai sumber inspirasi. Agar genap menjadi 100, tugas kitalah sebagai pembaca untuk mewujudkannya dalam bentuk aksi nyata. TBM tidak hanya tumpukan buku. Sudah seharusnya TBM memiliki relawan yang berkomitmen agar TBM punya ruh dan keunikan.