Tema: Lisensia Puitika dalam Penulisan Karya Sastra

Perusakan Bahasa vs. Kreativitas

Kata baru hadir untuk mewakili benda dan konsep baru. Pun kata lama, ditinggalkan, maknanya berubah sebagian, atau berubah total. “Mesum” yang semula bermakna kotor dan jorok, sekarang berubah jadi cabul. “Seronok” yang awalnya bermakna seru dan menyenangkan, sekarang berubah jadi erotis. Jelaskan ttg penandan tertanda Saussure. Kamus tak mungkin kekal. Kamus akan terus mengejar pembaruan kosakata dan penutur bahasa akan selalu berlari ke depan. Bahkan kata-kata prokem sekarang mulai dimasukkan sebagai entri KBBI, seperti kepo[1], kicep[2], alay[3].

Daya ungkap bahasa yang tidak memadai memaksa penutur bahasa meminjam kosakata bahasa lain atau menciptakan kosakata baru. Sebut saja kata “mengiyakan” yang berkata dasar iya. “Iya” adalah partikel dan “mengiyakan” adalah bentuk kata kerja dengan imbuhan me + kan. Sampai hari ini kata “mengiyakan” belum ada di KBBI, namun kata ini biasa digunakan semakna dengan “menyetujui.” Kata “mengiyakan” terkesan dibuat-buat namun mempunyai makna yang lebih jitu daripada setuju. “Mengiyakan” bermakna berkata iya terlepas setuju atau tidak. Demi kemudahan komunikasi dan penyampaian makna.

Bahasa adalah seperangkat kebiasaan yang disepakati bersama. Seni hakikatnya bebas tanpa aturan, termasuk aturan tata bahasa. Jika seni tak bebas, tak ada kreativitas. Namun, bahasa tetap harus bersistem agar logis. Pelanggaran tata bahasa masih bisa dipahami jika bisa dikembalikan pada struktur bahasa yang benar. Itulah yang mendasari licentia poetica, konsep yang diperkenalkan oleh filsuf Romawi kelahiran Kordoba, Lucius Annaeus Seneca.

Lisensia puitika (licentia poetica) adalah kebebasan penyair dari aturan baku dalam mengekspresikan tulisan. Kebebasan di sini bisa mencipta kosakata baru atau merombak kosakata yang sudah ada. Efek yang ditimbulkan dalam penggunaan lisensia puitika beragam. Mulai dari kesan intelek, kemerduan bunyi, ingin tampil beda, atau ingin menghidupkan kembali kata usang yang hanya jadi hiasan di kamus.

Dengan demikian, mendobrak kaidah tata bahasa bukanlah tujuan melainkan sarana. Lisensia puitika bisa jadi sarana untuk memecah kemandekan dalam mencari daya ungkap yang tepat. Para penutur bahasa bisa berdalih kreativitas untuk menciptakreasikan bahasa baru.

Tulisan berkarakter lahir dari penulis yang mengasah dan mencari jati dirinya. Setiap tulisan mempunyai ruh yang menggambarkan karakter penulisnya. ia menggambarkan karakter penulisnya. Pun gaya bahasa dan penuturan sehingga menghasilkan ciri khas. Itulah yang dinamakan idiosinkrasi. Dalam KBBI, idiosinkrasi berarti: 1) sifat, keadaan, atau hal yang menyebabkan sesuatu menjadi berlainan (karena tidak mengikuti aturan yang umum); 2) kelainan yang khas pada seseorang.[4]

Idiosinkrasi inilah yang dimiliki oleh penyair besar yang menandai zaman sastra. Ciri khas tersebut berkembang menjadi konvensi sastra yang dikenal sebagai lisensia puitika.

Lisensia Puitika Sebagai Identitas Zaman

Syekh Barus berperan penting dalam sejarah pemikiran di Melayu Nusantara karena gagasan tasawuf. Dia adalah pencipta ‘syair Melayu’ dengan bentuk puisi 4 baris berpola sajak akhir AAAA. Bentuk syair ini digemari oleh penulis Nusantara sejak abad ke-17.[5] Dengan kreativitas, ia merombak bahasa lama menjadi bahasa baru yang diterima hingga sekarang. Ia memasukkan kosakata bahasa Arab, istilah konseptual Qur’an, dan falsafah Islam ke dalam bahasa Melayu. Bahasa inilah yang membuat bahasa Melayu menjadi bahasa intelektual yang sanggup menampung gagasan baru yang diperlukan zaman itu. Dari kalamnya, lahir puisi-puisi agung yang belum pernah ditulis penyair manapun dalam bahasa Melayu.[6]

Hamzah Fansuri menekankan pada individualitas atau kesadaran diri, yaitu kebebasan untuk mengekspresikan pengalaman pribadi. Teeuw (1994:58-64) mengatakan ia melampaui tiga abad pembaruan yang dilakukan oleh Pujangga Baru (1930-an) dan Chairil Anwar (1940-an). Semboyan Pujangga Baru: “Puisi sebagai gerakan sukma yang mengalir ke indah kata” telah dilakukan Hamzah Fansuri pada abad ke-16. Pun perombakan bahasa lama demi pengucapan puitik baru Chairil Anwar. Dialah penyair Nusantara pertama yang membubuhkan nama dirinya dalam bait puisinya. Singkatnya, Hamzah Fansuri berhasil menerapkan lisensia puitika secara maksimal.[7]

Kemunculan “Kredo Puisi” Sutardji Calzoum Bachri (SCB) hadir dalam pencarian antara modernisme dan keaslian adiluhung. Keaslian adiluhung ini konvensi sastra Indonesia asli. Lisensia puitik SCB berdampak pada eksistensi bahasa mengingat idenya yang menganggap kata adalah mantra. Kata bukanlah alat yang mengantarkan pengertian. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.[8]

Kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Merujuk pada teori Saussure, kata adalah penanda (signifier), bukan tertanda (signified). Hubungan antara penanda dan tertanda dalam bahasa tak terpisahkan. Dengan demikian, kata digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Bagaimana jika ini membunuh bahasa mengingat sastrawan adalah pencipta bahasa?

Jika makna lepas dari kata, kamus tak diperlukan. Untuk apa mempelajari bahasa? Jika kata adalah mantra dan kata bebas makna, apakah bisa mantra bekerja? Atau jika mantranya berhasil, haruskah dukun disebut penyair? Belum ada kejelasan definisi dan batasan dari lisensia puitika. Untungnya, lisensia puitika hanya bermain dalam sastra, bukan masyarakat bahasa.

Bahasa menjadi kekinian alias mutakhir selaras dengan perkembangan masyarakat penutur dan kebudayaan setempat. Bahasa bisa berfungsi melalui konvensi atau kesepakatan bersama. Apa yang patut dan tidak patut digunakan, baik itu bahasa prokem maupun baku. Keberterimaan adalah syarat keberlangsungan bahasa. Jadi, masih perlukah khawatir dengan perusakan bahasa atas nama lisensia puitika?

Daftar Pustaka

Abdul Hadi W.M. Hermeneutika Estetika dan Religiusitas: Esai-Esai Sufistik dan Seni Rupa. Jakarta: Sadra.

Endarmoko, Eko. 2017. Remah-Remah Bahasa: Perbincangan dari Luar Pagar. Bandung: Mizan.

Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O, Amuk, Kapak. Jakarta: Sinar Harapan.

[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kepo Akses 31 Oktober 2019.

[2] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kicep Akses 31 Oktober 2019.

[3] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/alay Akses 31 Oktober 2019.

[4] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/idiosinkrasi Akses 31 Oktober 2019.

[5] M. Naquib Al-Attas (1972) dalam Abdul Hadi W.M. Hermeneutika Estetika dan Religiusitas: Esai-Esai Sufistik dan Seni Rupa. Jakarta: Sadra. Hlm 99-100.

[6] Teeuw (1994:58-62) dan M. Naquib Al-Attas (1970:20) dalam Abdul Hadi W.M. Hermeneutika Estetika dan Religiusitas: Esai-Esai Sufistik dan Seni Rupa. Jakarta: Sadra. Hlm 100.

[7] Abdul Hadi W.M. Hermeneutika Estetika dan Religiusitas: Esai-Esai Sufistik dan Seni Rupa. Jakarta: Sadra. Hlm 101.

[8] Sutardji Calzoum Bachri. 1981. O, Amuk, Kapak. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Esai ini dilombakan pada Pekan Sastra dan Bahasa UNAIR 2019.