Hana: Siang, Pak Slamet. Ini Hana yang membuat janji untuk wawancara bapak tentang veteran.

Slamet: Oh Hana. Iya, mari masuk.

H: Apa yang membuat Pak Slamet tertarik terjun di militer?

S: Alasan masuk militer itu panggilan hati. Saat itu tahun 1969 orang yang ingin masuk militer itu masih jarang karena takut perang. Akhirnya, saya memberanikan diri. Setelah tahun 1971-1972 orang baru berani mendaftar jadi tentara.

H: Siapakah veteran itu?

S: Veteran adalah pelaku sejarah dan pelaku perjuangan. Veteran lahir dari perjuangan yang tergabung di dalam bersenjata yang melawan pihak asing. Kalau tidak melawan pihak asing bukan veteran, lebih tepatnya pejuang. Tidak semua TNI dan POLRI mesti jadi veteran. Tidak semua masyarakat umum bisa jadi veteran. Hanya TNI dan POLRI sebagai pelaku perjuangan masyarakat umum, mahasiswa, dan lembaga swadaya yang tergabung dalam angkatan bersenjata melawan pihak asing yang bisa disebut veteran. Kuncinya adalah pihak asing.

Misal, tukang sapu yang mengantar surat sambil jualan jamu dikirim ke tentara pelajar. Musuhnya saat itu Belanda dan Jepang. Itulah veteran. Mahasiswa yang tergabung dalam angkatan bersenjata untuk bertugas di luar negeri dengan kontingen garuda. Inilah veteran.

H: Mengapa bapak bisa jadi veteran?

S: Saya dulu di pasukan tempur dan ditugaskan di Timor Timur dalam kurun tahun 1975-17 Juli 1976. Jadi, saya punya hak menyandang gelar veteran. Selepas itu, tak bisa mendapat gelar veteran karena kurun waktu sudah lewat. Untuk bertugas, ada surat perintah penugasan langsung dari administrasi veteran kodim dan surat keputusan dari menteri pertahanan keamanan. Surat tersebut disahkan oleh negara yang ditandatangani oleh menteri pertahanan keamanan. Veteran yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) otomatis tergabung dalam veteran luar negeri, yaitu VECONAC. VECONAC adalah Veteran Confederation of Asian Countries.

H: Ada berapa macam veteran di Indonesia?

S: Veteran di Indonesia ada lima. Ada veteran pembela kemederkaan yaitu Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI), veteran pembela Trikora di Irian Barat, veteran pembela Dwikora di Kalimantan, dan veteran pembela Seroja di Timor Leste. Untuk veteran perdamaian bisa TNI, Polri, mahasiswa, yang dikirim tergabung dalam angkatan bersenjata dalam komunitas kontingen garuda mewakili Indonesia. Veteran didasari dari perjuangan bersenjata yang melawan penjajah dan cikal bakal yang pertama adalah PKRI. Setiap tanggal 10 Agustus adalah hari veteran nasional dan setiap 2 Januari adalah ulang tahun veteran RI. Itu semua didasari sejarah.

H: Mengapa veteran diakui pemerintah?

S: Veteran mempunyai dasar hukum yang sangat kuat, yaitu UU No 15 Tahun 2012 tentang Veteran RI. UU No 15 itu membatasi veteran. Jadi, veteran PKRI antara 17 agustus 1945-27 Desember 1949, veteran pembela Trikora di Irian Barat antara 19 Desember 1961-1 Mei 1963, veteran pembela Dwikora antara 3 Mei 1964-11 Agustsus 1966, dan veteran pembela Seroja antara 21 Mei 1975-17 Juli 1976.

H: Bagaimana kiprah veteran saat ini?

S: Veteran Indonesia tetap komitmen menjaga jati diri veteran dan mempertahankan keutuhan kedaulatan NKRI yang didasarkan Pancasila dan UUD 1945. Veteran tidak banyak terjun ke politik bahwa veteran sangat netral. Mengapa? Karena mereka menjaga keutuhan persatuan bangsa.

H: Bagaimana kehidupan veteran sekarang?

S: Sampai sekarang tidak ada yang miskin. Tidak ada yang mengemis di jalan seperti yang diunggah di Facebook. Dulu ada yang seperti itu, tapi sekarang tidak ada. Semua veteran dipelihara oleh negara. Mereka terima tiap bulan itu tunjangan veteran dan dana kehormatan veteran. Mengenai tunjangan veteran diterima seumur hidup? Tidak juga. Jika sudah meninggal bisa diwariskan ke istri, anak tidak dapat. Begitu pula untuk wavet, wanita veteran. Jika wavet meninggal, suami sebagai ahli waris dapat menerima tunjangan seumur hidup.

H: Pak Slamet pernah ditugaskan ke mana saja?

S: Tugas pengamanan di Timor Timur selama kurang lebih setahun, Papua selama 14 tahun 8 bulan, tugas survey di Merauke, Nabire, Ambon, dan Pulau Seram.

H: Bagaimana perjuangan bapak dahulu?

S: Bapak ini dulu sekolah bintara di Magelang. Pada tanggal 12 Desember 1975, bapak harus penutupan pelantikan sersan dua. Bapak dilantik pada tanggal 5 Desember 1975 jam 9 malam yang harusnya belum pakai sersan dua, sudah dipasang sersan dua karena Timor Timur sudah bergolak. Teman-teman saya yang tidak tergabung dalam penugasan Timor Timur itu pelantikannya pada tanggal 12 Desember. Saat itu, saya langsung dijemput sama mobil batalyon dan dibawa ke markas batalyon. Saya bersiap dan berpamitan pada keluarga dan langsung berangkat ke Surabaya naik kereta api. Waktu itu perjalanan laut belum selancar sekarang, jadi saya ikut kapal dagang. Ketika sampai di Dili, kami tak bisa mendarat karena dihujani mortir dari ketinggian dan jatuh di pelabuhan. Kapal mundur ke tengah dan bertolak ke barat menuju kampung Arab. Kami turun di situ dan berjalan kaki lewat darat.

Di sana kurang lebih bertugas selama 11 bulan. Selama perang tidak makan sehari dua hari sudah biasa. Bahkan satu mi instan dimakan berdua. Isi operasi Seroja adalah pengamanan, melindungi seluruh rakyat Timor Timur agar tidak terganggu aktivitasnya dari gangguan Fretilin. Pengiriman barang pakai helikopter dan bekal makanan diberikan melalui terjun payung karena perjalanan darat masih sulit dan situasi masih rawan. Karena ada  penghadangan dalam pengiriman pembekalan, dibuatlah RPU yaitu rencana pembekalan umum. Helikopter pun tidak selalu ada, kecuali pengiriman obat atau ada yang meninggal. Itu pun tidak bisa terbang malam. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Veteran yang gugur dikubur di makam pahlawan di Timor Timur.

H: Apa yang berkesan kala operasi Seroja?

S: Saat Idul Fitri dan Natal. Dengan segala keterbatasan, kami bisa merayakan di daerah operasi seperti di gunung, bukit, dan lereng. Kami saling mengamankan dan berpelukan sambil meneteskan air mata karena jauh dari keluarga.

H: Ngomong-ngomong, berapa usia bapak sekarang?

S: Bapak lahir di Semarang, 13 Juni 1950. Pertama kali jadi TNI pada 1/11/1969. Pendidikan tamtama di Dodik Depo Klaten, Kodam bojonegoro. Pendidikan lagi sekolah calon bintara, sekolah untuk tamtama ke bintara, setelah itu sekolah calon perwira. Sekolah bintara itu untuk jenjang sedangkan tamtama untuk pangkat.

H: Dalam organisasi, bapak jadi ketua LVRI cabang Jakarta Pusat. Bagaimana ceritanya?

S: Pemilihan ketua cabang dilakukan melalui forum resmi yang berdaulat, yaitu musyawarah cabang. Ketika musyawarah cabang Jakpus yang ke-10 pada 17 September 2013, pak Slamet terpilih sebagai ketua cabang LVRI Jakpus melalui pemungutan suara. Tahun depan adalah musyawarah cabang yang ke-11 untuk pemilihan ketua lagi karena syaratnya akan jatuh tempo pada 17 September 2018. Ketua cabang veteran kabupaten/kota masa jabatannya 5 tahun. Ini berlaku untuk ketua DPD dan ketua DPP. Susunan organisasi ada dewan pimpinan pusat (DPP-LVRI) dan dewan pimpinan daerah (DPD-LVRI Propinsi). Untuk kabupaten/kota adalah cabang sementara kecamatan adalah ranting. Itu menggunakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga veteran.

H: Pemilih pemilu veteran apakah dari kalangan veteran juga?

S: Di situ ada ketentuan sebagai perserta dan sebagai peninjau. Kalau peninjau itu hanya ikut aja, tapi peserta itu akan memilih. Pemilihan bisa terbuka dan tertutup menggunakan lintingan kertas.

H: Apa tujuan dibentuknya organisasi veteran?

S: Tujuan dibuat organisasi LVRI adalah organisasi LVRI bertujuan agar para veteran yang ada di Jakarta ini bisa diakomdasi, dikoordinasi, dan ditangani.

H: Sejak kapan ada organisasi LVRI?

S: Sejak berdirinya veteran karena pada tahun 1959 sudah ada veteran. Saat itu masih menggunakan UU lama dan diperbarui dengan UU No 15 Tahun 2012.

H: Apa saja kesibukan bapak hari ini?

S: Kesibukan saya menangani 436 veteran yang ada di Jakarta Pusat, mengupdate veteran yang sudah meninggal, dan pendaftaran veteran. Hari Sabtu besok saya mau ke markas daerah bersama pemuda pancasila untuk melakukan sosialisasi perjuangan.

H: Apa pesan untuk generasi muda?

S: Untuk generasi muda, perjuangan ini tidak akan habis. Perjuangan mahasiswa adalah berjuang untuk menuntut ilmu agar berguna bagi agama dan bangsa. Generasi muda lainnya berjuang melalui karang taruna, organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain yang berorientasi pada NKRI dengan dasar Pancasila dan UUD 1945. Perjuangan ini untuk perekat bangsa agar tak pecah. Intinya, generasi muda harus mampu meneruskan perjuangan veteran. Tentunya perjuangannya dalam bentuk yang berbeda karena zamannya juga berbeda.

H: Terima kasih atas kesediaan waktunya untuk saya wawancara.

S: Sama-sama. Semoga wawancara ini bisa menambah wawasan dan bisa menyerap perilaku para LVRI yang sudah tua yang berjuang tanpa pamrih. Jangan patah semangat. Tetap semangat revolusi kemerdekaan 1945 karena itu adalah pijakan awal bangsa Indonesia.

***

“Karya ini dilombakan pada Kontes Wawancara dan Foto #MengenalVeteran 2017, Wajah Project dan Yayasan Sahabat Veteran.”

Karya ini juga dipamerkan pada saat pameran foto dan peluncuran buku bersama karya lainnya. Jadi, kunjungi pameran foto dan peluncuran buku #MengenalVeteran di Jakarta Creative Hub, Jakarta pada 10-11 November 2017.

karena mereka, Indonesia ada… karena mereka, kita ada… karena mereka orangtua kita. – Sahabat Veteran