Kita mengalami kemiskinan wahana untuk mencetak nilai-nilai luhur bangsa yang diidamkan menjadi karakter bangsa. Karakter adalah lukisan sang jiwa. Ia tidak sekali jadi. Ia harus ditanamkan, dipupuk, dan dibina terus menerus. Singkat kata, karakter adalah hasil dari suatu proses pembudayaan dan pelaziman. Nilai-nilai keteladanan dan kepahlawanan ini tidak diajarkan (taught) secara kognitif, tetapi ditangkap (caught) melalui penghayatan emotif dengan kehadiran suri tauladan.

Banyak orang mengeluhkan sulit ditemukan orang baik di sekitar kita. Ada keluhan panjang dan luas mengenai krisis keteladanan. Banyak orang meratapi ketiadaan panutan di tengah masyarakat. Asal punya kerendahan hati untuk belajar, kita bisa belajar dari siapapun agar kisah keteladanan dapat terus ditransmisikan. Barangkali kisah relawan PMI asal Bogor ini bisa menjadi inspirasi dan harapan bahwa hidup tak selalu keras. Dunia tak selamanya kejam.

Sore yang lengang. Angin berkesiur sepoi-sepoi menyeruak ke dalam kamarku. Telingaku awas menyimak kata demi kata yang terlontar dari suara serak di seberang sana. Sambil menunggu berbuka puasa, aku mendapat banyak pelajaran ketika mewawancarai pria tua bercucu dua itu.

Siapa sih yang gak kenal Engkong Najid? Pria yang berusia 70 tahun asal desa Waringin Jaya itu ngetop berkat sepak terjangnya sebagai relawan PMI mulai dari kampungnya sendiri, Jembaran, Mandala (Bogor), Pondok Rajet (Cibinong), Cisarua, hingga Pangandaran. Bermula dari mengisi waktu luang, saat itu Engkong Najid hanya mampir untuk berbincang bersama teman-teman yang ada di PMI sembari melepas lelah sehabis berkeliling menjajakan buah dengan gerobak. Kini pria hangat yang resmi menjadi anggota PMI sejak usia 66 itu mengabdikan dirinya melayani masyarakat korban bencana alam.

Tak sekadar donor darah …

Engkong Najid sudah jadi relawan selama 4 tahun hingga hari ini. Bagaimana ceritanya?

“Saat itu masih dagang, ikutan aja, sampe sekarang ini ya mengadakan kegiatan. Tiap ada bencana pasti ikut. PMI ga cuma sekadar donor darah aja.” cerita Engkong.

“Pernah coba donor darah, Engkong?” tanyaku.

“Pernah pas masih muda. Donor darah 3 bulan sekali sampai lima kali. Untungnya donor darah itu badan terasa bugar. Sayangnya, banyak orang yang gak paham dengan donor darah. Makanya saya suka ngajak orang buat donor. Sekarang mah sudah tua hahaha. Jadinya aktif di PMR dan KSR saja,” ujarnya.

Sumber: https://twitter.com/ksr_polines

Bencana banjir dan longsor adalah pengalaman tak terlupakan bagi Engkong. Terlebih banjir tersebut terjadi di kampung halamannya sendiri, di Waringin Jaya tahun 2015 lalu. Banyak orang terlantar, rumahnya terendam, untungnya tak ada korban jiwa. Begitu pula dengan longsor di Pemijahan, kampung Muara pada tahun yang sama. Longsor di pegunungan Bogor tersebut tak sampai menelan korban jiwa. Namun, banyak orang yang tak tau mau bernaung di mana mengingat harta benda dan rumah mereka tertimbun.

Baginya, menolong korban bencana alam tak ada duka. Hanya suka yang ia dapat. Kenal banyak orang dan wawasan menjadi luas. Sejak itu, Engkong Najid semakin semangat menggalakkan sibat, sebuah kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Kegiatannya memasang vertical garden dan biopori, penyuluhan/pendekatan pada masyarakat, gilas sampah, dan kebersihan sungai. Semuanya dilaksanakan 3 minggu sekali.

“Kegiatan sibat salah satunya adalah memasang vertical garden. Sekadar buat hiasan di posyandu, balai desa, musholla, dan rumah Pak RT dan Pak RW. Dari sini saya bisa tahu gunanya biopori. Biopori itu penyerap air becek buat mengurangi demam berdarah. Tanah dilubangi satu meter di 20 tempat, dan dipasang paralon di atasnya. Dalamnya sampah itu kan ada cacing, nah itu buat menyerap air. Mencegah banjir itu mudah,” tuturnya. “PMI juga melakukan kegiatan P3K di jalan raya di daerah Sukahati, Bogor Tengah, dan Bodong Gedhe,” tambahnya.

Sumber: http://cakrawalakitaa.blogspot.co.id

Masyarakat sekitar suportif dengan kegiatan Engkong Najid sebagai relawan PMI. PMI pun mau menerima Engkong Najid tanpa memandang status pekerjaannya. Alasannya menjadi relawan PMI cukup sederhana. “Ingin menolong orang dari hati yang tulus,” ucapnya dengan mantap. Tak disangka, hanya bermodal ketulusan hati menolong korban bencana alam, beliau bisa mendapatkan penghargaan relawan dari bupati dan akan diberangkatkan umroh akhir tahun 2016 ini. Sungguh rejeki yang tak diduga.

“Saya bangga menjadi relawan. Merasa enak. Ada kepuasan tersendiri ketika menolong orang,” ucapnya di sela-sela obrolan via telepon. “Yang penting kita mau aktif di PMI, setiap ada kegiatan tau, gak melalui pihak informasi lagi. Jadi kitanya harus proaktif. Niat aja gitu,” pungkasnya.

“Kapan-kapan mainlah ke sini, ke rumah Engkong di kampung Waringin Jaya Lebak RT 04 RW 07,” kata Engkong Najid. “Doakan juga mudah-mudahan kegiatan Engkong masih semangat dan berlanjut terus,” ucapnya di penghujung wawancara.

Menjadi relawan di hari tua laksana menjadi suluh di kerak senja. Itulah yang diajarkan oleh Engkong Najid. Jiwa kerelawanan dapat ditanamkan melalui keteladanan. Bagi kebanyakan orang tua, kesunyian lebih ke sepinya perasaan. Tak mungkin bagi Engkong Najid untuk pulang kampung. Tak ada desa asal untuk disinggahi. Beliau lahir dan besar di kampungnya. Begitu pula anak-anaknya yang sudah berumahtangga dan merantau. Meski ada yang tinggalnya masih berdekatan, mereka tentu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Tidak ada yang bisa tahu seperti apa corak hari tua. Namun, ada banyak cara mengisi usia senja. Menjadi relawan PMI adalah salah satunya. Begitulah kisah inspiratif Engkong Najid bersama PMI, di manapun untuk siapapun. Hayuk, yang masih muda. Apa caramu mengisi hari mudamu?

Link asli ada di SINI.