Tema: Peran dan Kedudukan Bahasa Indonesia Terhadap Bidang Ilmu Lain

Bahasa dan Kebangsaan

Indonesia dibangun atas pondasi kebahasaan. Tidak seperti bangsa lain yang membangun bangsanya dengan pendekatan ras, seperti politik apartheid di Afrika atau pendekatan agama seperti pendirian negara Pakistan. Sangat mustahil jika membangun Indonesia melalui pendekatan ras dan agama karena kemerdekaan Indonesia tak lepas dari jasa pahlawan dari berbagai suku bangsa dan agama. Inilah alasan mengapa memuliakan bahasa Indonesia adalah sebuah bentuk nasionalisme.

Bahasa Indonesia tidak meletakkan dasar kebangsaan. Namun, bahasa Indonesia merupakan sarana mendalamkan kesadaran nasional rakyat Indonesia. Kebangsaan Indonesia adalah kenyataan sosial, bukan sekadar label. Begitu pula dengan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu karena pengalaman bersama dalam ketertindasan, ketidakadilan, dan penjajahan. Dalam pengalaman bersama inilah, muncul kesadaran harkat kemanusiaan bersama sebagai manusia Indonesia. Mengingat kebangsaan Indonesia bukan sesuatu yang alami, maka pembangunan bangsa (nation building) memerlukan pemeliharaan yang terus menerus. Begitu pun dengan bahasa, tanpa pemeliharaan yang terus menerus, bahasa yang berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa ini tak dapat menjalankan fungsinya.

Bahasa Indonesia: Peran Pers dan Kaum Indo

Sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia juga berkenaan dengan bagaimana masa lalu membentuk hari ini dan bagaimana hari ini membentuk pemahaman kita akan masa lalu. Indonesia dibangun atas elemen kebahasaan dan menjadi asal-usul sejarah pembangunan NKRI. Dapat dikatakan, bahasa juga memiliki muatan politis. Umumnya, sejarah nasionalisme dipandang sebagai antitesis kolonialisme sehingga apapun yang berbau kolonialisme dianggap berlawanan terhadap sejarah Indonesia asli. Padahal kolonialisme bagian dari sejarah kita. Menghapus puing-puing kolonialisme sama saja mengingkari keindonesiaan kita sendiri.

Latar belakang sejarah, politik, perdagangan, dan budaya menjadi alasan dalam memilih bahasa persatuan. Ada hal yang menarik mengapa bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang menurut survei Belanda pada tahun 1931 hanya memiliki penutur sebanyak 500.000 orang. Mengapa bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa saja? Alasannya terletak pada penutur bahasa Melayu yang tersebar di seluruh Indonesia sementara penutur bahasa Jawa hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa saja. Hal ini menandakan ada keterwakilan bahasa persatuan dalam wilayah nusantara. Bahasa merupakan bentuk awal nasionalisme Indonesia. Keterwakilan inilah yang menyebabkan mengapa dipilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Upaya Belanda mengangkat bahasa Melayu Riau sebagai bahasa nasional di Hindia Belanda adalah bentuk pembakuan bahasa. Bahasa Melayu Riau yang diangkat ini bukan berasal dari bahasa yang hidup di masyarakat Riau, melainkan bahasa yang berasal dari naskah-naskah setempat. Mungkin ini alasan mengapa pengangkatan bahasa Melayu Riau tak menimbulkan gejolak yang berarti. Tak heran bahasa ini kaku dan baru luwes setelah mendapat pengaruh dari pegawai Balai Pustaka yang bersuku Minang. Melalui Balai Pustaka, Belanda mengembangkan bahasa Melayu Tinggi dan mengawasi bahasa Melayu yang dekat dengan masyarakat guna mengekang dan menyingkirkan penulis yang beraspirasi ingin merdeka. Penulis-penulis tersebut diantaranya Marco Kartodikromo, Semaoen, Tirto Adhi Soerjo, Njoo Cheong Seng, dan penulis Indo H. Kommer (Tempo, 3 September 2013).

Belanda tidak memiliki misi pembudayaan dan tidak memiliki anggaran khusus untuk pendidikan bahasa. Tidak seperti bangsa lain yang diwajibkan menguasai bahasa penjajahnya. Hanya orang-orang elit saja yang bisa berbahasa Belanda sebagai konsekuensi politik etis yang sebenarnya hanya diberikan pada golongan bangsawan. Hindia Belanda saat itu sudah memiliki bahasa pengantar sehingga pewajiban berbahasa Belanda dianggap pemborosan. Ini jelas mempermudah bahasa Indonesia untuk diterima sebagai bahasa nasional.

Lagi-lagi Belanda tak bisa dilupakan dalam pembakuan bahasa Melayu, cikal bakal bahasa nasional Indonesia. Sejarah mengenai nasionalisme adalah sejarah intelektual sementara pers merupakan ruang wacana publik yang memungkinkan siapapun untuk merefleksikan pemikirannya. Sejak tahun 1800-an terjadi perkembangan penting terkait dengan dinamika masyarakat Indo, yaitu pelibatan jurnalistik dalam kesadaran identitas Indis (Pradipto, 2011:25). Melalui surat kabar dan karya sastra, kaum Indo menggunakannya sebagai medium untuk membentuk kesadaran publik akan nasionalisme. Mereka memberikan warna berbeda pada bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia yang membedakannya dengan bahasa Melayu meskipun serumpun.

Bahasa Indonesia dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Penyisipan bahasa asing terutama bahasa Inggris ke dalam obrolan semakin sering terjadi sejak pesatnya perkembangan teknologi. Di sini negara yang teknologinya maju menguasai penuh penggunaan bahasa. Ini bukti bahwa imperialisme bahasa (linguistic imperialism) masih berlaku karena perkembangan bahasa kalah cepat dengan perkembangan teknologi. Sayangnya, penguasa teknologi secara tak langsung juga turut menjajah mental konsumen teknologi. Mengingat kita mengadopsi teknologi dari negara maju, kita turut mengadopsi bahasa mereka demi keluwesan terhadap iptek. Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa penyerapan bahasa asing turut memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Akhirnya, penyisipan tak hanya demi kebutuhan, tetapi juga gengsi. Jika yang terjadi karena gengsi, lambat laun identitas berbahasa satu bahasa Indonesia akan terkikis. Inilah yang ditakutkan oleh pemerintah kita sampai-sampai pemerintah membentuk Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), mengadakan Bulan Bahasa dan Sastra tiap bulan Oktober, hingga menambah jam pelajaran bahasa Indonesia di kurikulum pendidikan.

Aitchison (2013) memberikan teori mengenai kematian sebuah bahasa. Kematian bahasa dapat terjadi melalui dua hal, yaitu bunuh diri bahasa (language suicide) dan pembunuhan bahasa (language murder). Pertama, bunuh diri bahasa (language suicide) terjadi ketika sebuah bahasa tidak memiliki padanan kata yang tepat yang mana penuturnya menggunakan kosakata bahasa yang secara sosial lebih dominan. Seperti kata gadget. Kita menyerap langsung tanpa penyesuaian kata ini dari bahasa sumber (baca: bahasa Inggris) ke dalam bahasa target (baca: bahasa Indonesia) karena kita belum menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk itu. Inilah bukti bahwa daya ikat leksikal bahasa Indonesia masih rendah. Namun, dengan terbukanya bahasa Indonesia terhadap perngaruh dari luar memungkinkan bahasa Indonesia untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan iptek.

Kedua, pembunuhan bahasa (language murder) terjadi ketika sebuah bahasa “dikepres” dan tidak digunakan lagi. Ini adalah fenomena sosial yang lazim terjadi pada pernikahan antarsuku bangsa yang mana penggunaan suatu bahasa diabaikan karena tidak dibutuhkan di komunitas itu.

Berbicara mengenai peran bahasa Indonesia terhadap ilmu pengetahuan, berarti berbicara mengenai pembinaan bahasa Indonesia. Harimurti (1974:10) memberikan pemikirannya bahwa berbahasa yang baik itu berarti berpikir dengan jernih dan berkomunikasi dengan efisien. Inilah tujuan pembinaan bahasa Indonesia. Pembinaan bahasa Indonesia lebih dari sekadar penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah. Pemahaman sempit ini menghalangi pandangan bahasa secara historis dan sosial sehingga pemahaman ini tertinggal dengan perkembangan bahasa padahal di sinilah letak permasalahan bahasa Indonesia dalam menerima pengaruh dan masukan dari luar.

Pembinaan bahasa secara terencana disebut pembakuan bahasa. Tujuannya untuk menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat daya ungkap bahasa Indonesia guna memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa ilmu pengetahuan. Ada tiga bidang yang mendapat perhatian khusus dalam pembakuan, yaitu tata bahasa, peristilahan, dan ejaan. Dari tiga bidang tersebut, ejaan mendapat prioritas yang paling utama karena sistem ejaan adalah landasan bagi standardisasi bahasa dan tata bahasa yang berfungsi sebagai penyaring masuknya pengaruh baru dalam bahasa (Harimurti, 1974:11).

Menurut Minto Rahayu (2007:21-22) ada tiga ciri utama bahasa baku, yaitu kemantapan dinamis, kecerdasan, dan keseragaman kaidah. Kemantapan dinamis membutuhkan kaidah bahasa yang stabil namun cukup dinamis (luwes) untuk menerima perubahan di bidang peristilahan dan ilmu pengetahuan. Proses pencerdasan bahasa diwujudkan dalam bentuk penalaran yang logis dan sistematis agar dapat menjadi medium penyampai ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Seberapa jauh keberhasilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam melakukan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan, serta menginternasionalkan bahasa Indonesia? Semua bergantung pada kita sebagai penutur bahasa Indonesia. Mampukah kita membudayakan bahasa Indonesia dalam bentuk lisan dan tulisan?

Daftar Pustaka:

Aitchison, Jean. 2013. Language Change: Progress or Decay? Fourth Edition: Cambridge: Cambridge University Press.

Arifah. (2013, November). Bahasa dan Nasionalisme. Majalah Dikbud, 06, 05.

Arifah. (2013, November). Banggalah dengan Bahasa Indonesia. Majalah Dikbud, 06, 15.

Kleden, Ignas. 1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES.

Kridalaksana, Harimurti. 1974. Fungsi Bahasa & Sikap Bahasa. Flores: Nusa Indah.

Latif, Yudi. 2011. Negara Paripurna. Jakarta: Gramedia.

Maryani, Yeyen. (2013, November). Bahasa Indonesia dan Identitas Bangsa. Majalah Dikbud, 06, 06-07.

Niwandhono, Pradipto. 2011. Yang Ter(di)lupakan: Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia. Yogyakarta: Djaman Baroe.

Rahay, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gramedia.

Wibisono, Joss. 2013. “Bahasa Nasional”. Tempo, 29 Juli.

Wibisono, Joss. 2013. “Melajoe Belanda”. Tempo, 2 September.

 

“Tulisan ini memenangkan penghargaan sebagai juara 1 dalam acara Lomba Bulan Bahasa UNAIR 2015.”