Tema: Media online dari Riau untuk Dunia

Kondisi Penyiaran Kita Hari Ini

Jurnalisme Indonesia menemukan euforianya ketika rezim Orba runtuh. Pemberitaan yang berimbang juga mencakup pemberitaan yang berguna di daerah, bukan hanya seputar Jakarta. Pemenuhan kebutuhan terhadap informasi haruslah merata sesuai dengan semangat desentralisasi dan media massa lokal dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dampak sentralisasi penyiaran adalah penjajahan budaya. Penanaman budaya pusat ke budaya pinggiran dan mematikan kearifan lokal. Dampaknya, masyarakat lokal luar Jakarta hanya akan memandang segala yang berbau Jakarta itu wah dan hebat yang akhirnya membuat mereka meremehkan kearifan lokal mereka sendiri. Punahnya bahasa asli di suatu daerah di Indonesia juga disebabkan oleh media massa yang tak pernah mengekspos kearifan lokal setempat sehingga mereka kurang menghargai budaya mereka sendiri. Dengan adanya RiauBook, diharapkan budaya dan kearifan lokal masyarakat Riau semakin mudah mendunia dan masyarakat Riau sendiri semakin berdaya dengan adanya informasi yang terpercaya dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Peran RiauBook dalam Konsolidasi Demokrasi

Sumber: http://riaubook.com

Berita Riau merupakan media yang cocok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berdomisili di Riau. Mengingat lembaga penyiaran (baca: televisi) dan media massa umumnya tersentralisasi di Jakarta, Berita Riau merupakan sebuah alternatif pemberdayaan lokal. Indonesia bukan hanya Jakarta dan masa depan Indonesia bergantung pada daerah-daerah di luar Jakarta. Sesuai dengan empat fungsi pers, yakni memberi informasi, mendidik, memberi hiburan, dan melaksanakan kontrol sosial, Berita Riau membangun Indonesia melalui jurnalisme khususnya media online. Media massa tidak sekadar media komersial yang berorientasi pada keuntungan karena informasi tak sekadar komoditas, tetapi juga memiliki muatan yang bernilai penting bagi masyarakat agar berperan dalam menciptakan masyarakat yang demokratis. Pun, media massa berfungsi sebagai ruang diskusi publik yang memungkinkan informasi disirkulasikan dalam masyarakat. Media massa yang sehat tak hanya media yang menghasilkan keuntungan besar, melainkan media yang dapat menjalankan empat fungsi pers. Informasi yang bernilai inilah yang akan memeberdayakan publik untuk berpartisipasi aktif dalam demokrasi. Dengan demikian, peran pemerintah diperlukan untuk memelihara keberlangsungan media online lokal. Kolom advertorial di RiauBook merupakan suatu upaya menggandeng korporasi, organisasi, lembaga birokrasi, dan pemerintah sekaligus sebagai upaya menjalankan fungsi kontrol sosial. Pada gilirannya, akan ada kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah, korporasi, dan organisasi dan bagaimana kiprahnya dalam melayani masyarakat.

Media Online RiauBook Sebagai Media Lokal Penangkal Hoax

Media yang kredibel akan mudah terindeks oleh Google dan menduduki ranking atas di Alexa. Pastinya, tak hanya kredibel, tetapi juga bermanfaat, dan menarik. Mana mungkin pembaca mau sering singgah jika tidak menarik dan bermanfaat? Ini juga yang membuat RiauBook melesat sejajar dengan media online nasional lain. Tak hanya berita Riau, RiauBook juga memberitakan kejadian di di tanah air, hingga seluruh dunia.

Ini adalah prestasi yang membanggakan mengingat RiauBook baru berdiri dua tahun yang lalu. RiauBook.com, ‘Pustaka Riau untuk Dunia’ Masuk Jajaran Atas Website Nasional adalah buah nyata kerja keras keluarga RiauBook dalam memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat.

Sebagai media online Riau yang paling dipercaya, RiauBook adalah rujukan utama jika ingin mengenal Riau lebih dekat. Segala tentang Riau ada di sini. Ingin tahu tentang Riau tapi takut salah informasi? Maunya fakta, dapatnya hoax. Kadang orang sudah terlanjur termakan gosip gak jelas tentang Riau dan orang Melayu di sana. Taunya Riau itu ya kelapa sawit, kilang minyak, bahkan orang Melayu sempat diisukan pemalas. Berita Riau mempunyai peran signifikan dalam pelurusan hoax dan kabar burung.

Foto oleh Mirwan Choky – mirwans.com

Selain dari ranking Google, salah satu ciri berita online terpercaya dapat melihat pada jajaran Redaksi. Di kolom redaksi terlihat jajaran para pengurusnya. RiauBook tidak asal copas (baca: copy paste) berita di media lain karena mereka mempunyai tata organisasi yang jelas dan manajemen yang baik.

Dalam jajaran Redaksi bisa dilihat siapa pemimpin umum, wakil pemimpin umum, pemimpin perusahaan, pemimpin perusahaan, pimred, dewan redaksi, redaktur, redaktur bahasa Inggris, sekretaris redaksi, teknologi informatika, dan tim peliputan yang mewakili 13 daerah di propinsi Riau. Tak hanya itu, RiauBook juga memiliki perwakilan Jakarta untuk meliput berita nasional dan pos peliputan di Istana Presiden, hingga seluruh kementrian. Wow banget kan?

Bernaung di bawah PT Riau Bukindo Utama (RBU), jurnalis RiauBook dilengkapi oleh identitas dan surat tugas resmi perusahaan. Otomatis, pemberitaan yang disampaikan oleh RiauBook bisa dipertanggungjawabkan. Ini juga bisa ditiru oleh daerah-daerah lain untuk membangun daerahnya melalui jurnalisme. Sudah saatnya kita mengenal daerah lain selain Jakarta. Bukankah pemberitaan kita selama ini cenderung Jakarta sentris?

Tak ketinggalan fakta mengejutkan mengenai vlogger yang meraup hingga 60 juta lebih sebulan. Youtuber dengan Penghasilan Terbesar ternyata Warga Riau, Wow Rp62 Juta Sebulan membuat saya benar-benar melongo. Bahkan, komedian sekelas Raditya Dika berada di bawahnya. RiauBook tak hanya mengekspos anak Riau yang berpotensi, tetapi juga membuktikan bahwa untuk bisa cetar tak perlu merantau ke ibukota.

RiauBook di Mata Saya

Seorang konsultan brand yang berpengalaman lebih dari 30 tahun, Kartono (2015:215-6) dalam bukunya Brand Genius: Bagaimana Merek Anda Dicintai dan Dipuja menyebutkan 11 tanda suatu merk/jasa yang dipuja, salah satunya adalah konsumen memberi saran untuk perbaikan. Hal ini juga berlaku bagi saya sebagai pembaca setia RiauBook dan saya ingin situs favorit saya kian baik dari hari ke hari. Saya bisa dikatakan sebagai pembaca setia RiauBook karena RiauBook adalah situs kedua yang saya hampir setiap hari setelah Facebook. Sebagai pembaca setia, saya mendapati RiauBook sangat mudah diakses melalui smartphone, walaupun sejujurnya agak lemot 😉 . Saya tak heran setelah saya cek di Alat Penguji Kecepatan Situs Versi Seluler dari Google, skor RiauBook menempati skor 99/100 untuk seluler. Amat sangat sesuai untuk seluler alias smartphone-friendly. Sayangnya, kecepatan desktop termasuk rendah, yaitu 20/100. Pantas saja, saya lebih nyaman berselancar dengan ponsel ketika membuka RiauBook.

Literasi Media dalam Pendidikan sebagai Upaya Pemberdayaan, Penyadaran, dan Transformasi Sosial

If you want to use television to teach somebody, you must first teach them how to use television. – Umberto Eco

Pandangan Umberto Eco tak hanya berlaku pada televisi saja, tetapi juga media massa lainnya. Namun, di antara media massa yang ada, televisilah yang berperan dominan karena pengaruhnya menyentuh pelosok. Gambar adalah kredo televisi sehingga dramatisasi televisi membuat suatu peristiwa memiliki nilai berita (news value) dan berdaya jual. Hari ini, tak hanya teks saja yang merupakan wacana, gambar dan suara pun termasuk wacana.

Tak cukup dengan what, who, where, which, when, dan who yang dikenal dengan formula 5W + H, masyarakat harus lebih kritis dengan 5R, yaitu read, research, reliabilitly, reflecting, and (w)rite. Membaca (read) membuka cakrawala mengenai suatu masalah dan hanya dengan membaca kita bisa melakukan riset (research). Dengan demikian, informasi bisa kita verifikasi kebenarannya (reliability). Pada gilirannya kita dapat melakukan refleksi (reflection) sehingga kita bisa melihat sesuatu dari berbagai sudut, bukan seperti memakai kacamata kuda. Setelah itu, kita tuangkan apa yang kita pelajari ke dalam tulisan (writing).

Budaya lisan sangat berpengaruh terhadap penyebaran hoax. Tradisi diskusi masih kalah dengan tradisi ngobrol dalam kebudayaan kita. Ketika diskusi, kita mengerjakan suatu gagasan. Sedangkan ketika ngobrol, kita hanya bermain-main dengan gagasan. Dalam obrolan, gagasan mudah dilupakan karena tak diorganisasi menjadi kerangka yang lebih mantap. Tentunya dalam mengorganisasi pikiran, menulis adalah cara yang paling tepat.

Sayangnya, keberlisanan dan keberaksaraan masyarakat di Indonesia sangat erat kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Tentunya budaya lisan kita bukan sesuatu yang ahistoris. Damono (1999:137-8) membandingkan keberaksaraan dan perkembangan teknologi informasi Inggris dengan Indonesia. Keberaksaraan massal di Inggris terjadi pada masa industrialisasi yang saat itu belum mengenal televisi sehingga mampu menghasilkan sastra populer sebagai hasil sampingan. Berbeda jauh dengan di Indonesia yang baru saja rakyatnya mengenal huruf dan belum berbudaya tulis sudah dipaksa melupakan dengan kehadiran televisi.

Apalah artinya media online yang memberdayakan masyarakat jika masyarakat tersebut tidak memberdayakan dirinya sendiri. Masyarakat harus proaktif dan tidak sekadar menjadi konsumen berita. Walau bagaimanapun, pengaruh dalam media adalah konsekuensi dari fungsi pers itu sendiri yaitu memberi informasi, mendidik, menghibur, dan melaksanakan kontrol sosial. Tanpa partisipasi masyarakat, tak akan ada pemberdayaan dan transformasi sosial. Di sinilah letak urgensi pendidikan dalam pengajaran literasi media.

Mengapa hoax mudah dipercaya?

  1. Keterbatasan informasi

Minimnya informasi yang kredibel membuat orang mudah mempercayai hoax. Untuk menanggulangi hal ini, diperlukan partisipasi aktif masyarakat untuk riset dan melakukan verifikasi. RiauBook merupakan sebuah alternatif rujukan terpercaya di era paska kebenaran karena sajian beritanya yang informatif dan komprehensif.

2. Tingkat popularitas informasi

The most basic form of mind control is repetition. Hal yang dikemukakan berulang-ulang akan terasa lebih benar dan dianggap bermakna baik. Dengan pengulangan informasi, kata tak bermakna menjadi familiar dan biasa. Di sinilah dilema antara belajar dan berpikir kritis. Kita merasa sudah belajar padahal tidak. Proses belajar kita hari ini dilakukan dengan menghapal, sehingga kita tak mampu memecahkan persoalan dan mengaplikasikan ilmu ke dunia nyata. Oleh karena itu perlu diajarkan ilmu logika di sekolah agar tidak terjadi logical fallacy. Inilah cara terbaik membedakan hoax dan fakta. Pengulangan, hapalan adalah kegiatan yang identik dengan sikap patuh. Pada akhirnya, apa yang kita anggap benar hanyalah sebuah ilusi. Tanpa ba-bi-bu, 5R memang harus diterapkan dalam menyaring informasi yang beredar dan RiauBook dapat dijadikan rujukan terhadap informasi yang simpang siur.

3. Pola pikir kemudahan pemahaman (cognitive ease)

Masih berkaitan dengan tingkat popularitas informasi, hal-hal yang dianggap benar umumnya familiar dan lebih mudah dipahami. Ini terjadi akibat mekanisme yang disebut kemudahan pemahaman (cognitive ease). Kemudahan pemahaman mengukur seberapa keras otak kita bekerja dan ini bisa direkayasa pengulangan informasi.

4. Bias konfirmasi (confirmation bias)

Jika hoax berkaitan dengan hal yang sudah biasa dipercaya, maka hoax lebih mudah diterima. Misal informasi tentang ajaran agama namun informasi tersebut mengandung opini dan penafsiran yang memerlukan telaah lebih dalam.

Gracia, dkk (2013:111) mengemukakan lima elemen dasar dalam literasi media, diantaranya: 1) pengakuan konstruksi media sebagai proses sosial; 2) analisa hermeneutika yang mengeksplorasi bahasa, genre, kode, dan konvensi teks; 3) eksplorasi peran pemirsa dalam negosiasi makna; 4) mempermasalahkan proses representasi untuk membongkar isu kekuatan, ideologi, dan kenikmatan; dan 5) pengujian institusi dan ekonomi politik yang menyusun media industri sebagai bisnis.

Pendidikan literasi media bergantung pada pembimbingan peserta didik untuk mengeksplorasi ideologi yang tersembunyi dan hubungan antara kekuatan dan informasi. Pendekatan ini termasuk pendidikan demokratis yang mana pendidik dan peserta didik mempelajari struktur kekuatan sementara mereka mendobrak mitos bahwa pendidikan seharusnya apolitis. Peserta didik diajak secara langsung untuk meneliti pesan yang disampaikan oleh media massa yang berkenaan dengan seksisme, rasisme, dan sebagainya sehari-hari. Ini sangat berkaitan dengan pemikiran Freire mengenai praksis yang mengaitkan kata dengan aksi. Literasi media memberdayakan peserta didik untuk melihat bagaimana suatu berita diberitakan dan menciptakan pesan mereka sendiri. Ini adalah pendidikan yang mengajarkan bagaimana cara berpikir kritis (critical thinking).

Jika fungsi interaksi antara tindakan dan pikirannya sinergi, di situlah dia telah melakukan praksis dan berpotensi mengubah dunia. Peserta didik harus berpikir sendiri dan mengucapkan dengan kata-katanya sendiri. Proses pengaksaraan dan keterbacaan (alfabetisasi dan literasi) dalam pendidikan harus merupakan suatu proses yang fungsional, bukan sekadar keberaksaraan teknis yang bersifat linguistik. Di sinilah letak pentingnya keberaksaraan fungsional dan budaya. Keberaksaraan fungsional sudah berkiatan dengan fungsi dan posisi sosial seseorang sementara keberaksaraan budaya merupakan kegiatan membaca sebagai kebutuhan layaknya sandang, pangan, dan papan.

Pendidikan literasi media menekankan pada produksi, peserta didik diharapkan tidak hanya menjadi konsumen media massa sehingga peserta didik mampu menggunakan media massa dan memilah mana berita yang patut dipercaya.

Selamat ulang tahun Riau Book. Semoga Riau Book semakin lebih baik dan tetap menjadi rujukan terpercaya.

Daftar Pustaka:

Damono, Sapardi Djoko. 1999. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Freire, Paulo. 1999. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Garcia, Antero, Robyn Seglem, dan Jeff Share. 2013. Transforming Teaching and Learning Through Critical Media Literacy Pedagogy. Jurnal LEARNing Landscapes Vol. 6, No. 2, Hlm 108.

Kartono, Budi P. 2015. Brand Genius: Bagaimana Merek Anda Dicintai dan Dipuja. Jakarta: Elex Media Komputindo.