Tema: Representasi Agama dalam Karya Sastra

Agama dan Estetika

Akar kekerasan adalah ketakutan. Ketakutan sangat ampuh diselipkan dalam ajaran agama. Ketika orang memahami ajaran agama dengan ketakutan, kitab suci tak lagi menjadi karya sastra yang indah dan penuh kebajikan. Masuknya ketakutan dalam beragama, umat beragama mengimani agama dengan beringas. Kitab suci pun dijadikan landasan pembenaran untuk melakukan kekerasan. Untuk itu, agama perlu dikaitkan dengan estetika sebagaimana perannya di masa lampau.

Kemudahan Islam untuk diterima secara damai dan luas tak lepas dari pengaruh sastra sufistik. Wali Songo berdakwah melalui kesenian kesenian daerah yang hidup dengan simbol di masyarakat setempat seperti wayang, lagu daerah, dan musik. Bahkan tasawuf dipadukan dnegan ilmu Islam lain seperti fiqh, ushuluddin, dan ilmu tafsir. Untuk itu, kita perlu mengembalikan agama pada estetika.

Sebuah kropak Jawa abad ke-15 yang dikarang oleh Maulana Malik Ibrahim menyebutkan bahwa rujukan utama kitab itu adalah Bidāyat al-Hidāyah karya Imam al-Ghazali, yang merupakan ringkasan dari kitabnya Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Drewes, 1978:6). Kitab-kitab Sunan Bonang seperti Wejangan Seh Bari dan puisi-puisi suluknya yang mendalam (Drewes, 1969:8-11) dan suluk-suluk yang diidentifikasi sebagai karya Sunan Gunung Jati yang ditulis pada awal abad ke-16 M, membuktikan bahwa pada masa itu pemahaman terhadap tasawuf begitu mendalam di kalangan terpelajar Islam. Bersamaan dengan ini penulis Melayu dan Nusantara mengenal estetika dan puitika sufi.[1]

Estetika adalah seni atau filsafat keindahan. Estetika berasal dari bahasa Yunani, aesthetis yang berarti pengamatan indera atau sesuatu yang merangsang indera. Dari situ Baumgarten mengartikan estetika sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang dapat diamati dan merangsang indera, khususnya karya seni. Pandangan ini dinilai terlalu dangkal oleh Coomaraswamy yang menurutnya mereduksi karya seni dan objek indah sebagai fenomena psikologi dan selera subjektif. Keindahan dan karya seni bertalian dengan hasrat manusia yang paling tinggi, yaitu pengalaman kerohanian dan kepuasan intelektual (Pabitrakumar, 1990).[2]

Menghidupkan Sastra Profetik di Indonesia

Sastra religi mempunyai segi profetik yang merupakan pusat pertemuan dimensi sosial dan transendental dalam penciptaan karya sastra[3]. Berasal dari kata prophet yang berarti nabi, sastra profetik adalah sastra kenabian yang mengusung karakter dan spiritualitas nabi. Estetika tak seharusnya dipisahkan dari spiritualitas, intelektualitas, dan etika agat tak merosot nilainya. Pertanyaan pangkal sastra profetik adalah: Bagaimana bisa manusia mengenal dirinya tanpa mengenal kesadaran semesta dan kerohaniannya?

Di sinilah perlunya pemahaman mistisisme (tasawuf) sebagai jalan. Dalam Islam, mistisisme terbagi menjadi tiga corak: 1) Mistisisme akhlak; 2) Mistisisme cinta; dan 3) Mistisisme falsafah. Rudolf Otto (1992:73-9) dan F.C. Happold (1960:43) membagi menjadi dua: 1) Mistisisme cinta dan penyatuan (the mysticism of love and union); dan 2) Mistisisme makrifah dan pemahaman (the mysticism of knowledge and understanding).[4]

Sufi yang terkenal dengan mistisisme cinta adalah Rumi. Rumi berpandangan bahwa untuk memahami asal usul diri dan ketuhanan harus melalui jalan cinta, bukan jalan pengetahuan. Sementara Eickhart memandang mistisisme pengetahuan merupakan dorongan utama untuk memahami Tuhan. Pada akhirnya semua ini bermuara pada hakikat wujud Tuhan dan hakikat diri yang disebut makrifat. Bagi Rumi, cinta merupakan kemampuan rohani yang terpendam dan harus dirangsang dengan keindahan. Sarana untuk mengidupkan cinta adalah zikir, musik, dan nyanyian. Tak mungkin mencapai pengalaman mistik tanpa ekstase mistik (wajd) dan kemabukan mistik (sukr). Sedangkan bagi Eckhart, membedakan antara Deus (God) dan Deitas (Godhead). Deus adalah Tuhan yang hadir sebagai pencipta sehingga ia punya nama. Deitas adalah kesatuan utama, kekal selamanya, tak bernama, dan tak terjangkau akal manusia.[5]

Seperti yang dikatakan oleh Ali Syariati, tolok ukur sastra profetik bersifat hakiki yaitu sumber penemuan jati diri manusia dan penyebab mekarnya kemungkinan transenden.[6] Layaknya hakikat ajaran agama yang menyatukan dimensi sosial dan dimensi transendental, karya sastra harus membumi dan melangit. Dimensi sosial menyentuh sisi kemanusiaan dan dimensi transendental membuat karya sastra relijius. Inilah yang dicita-citakan sastra profetik. Ini sesuai dengan tradisi kesusastraan di masa lalu, bahwa senilah yang paling dekat dengan agama. Bila seni dekat dengan agama, seni mampu membawa kebajikan dan kearifan yang profetik.

Kuntowijoyo[7] mendefinisikan sastra profetik sebagai sastra dialektik yang berhadapan dengan realitas, melakukan penilaian, dan mengkritik sosial budaya secara beradab. Oleh karena itu, sastra profetik mempunyai kaidah yang memberi dasar kegiatannya karena ia menyerap, mengekspresikan, dan memberi realitas. Realitas sastra adalah realitas simbolis, bukan realitas aktual maupun realitas historis. Melalui simbol itulah, sastra memberi arah dan melakukan kritik atas realitas.

Meningkatnya minat dan apresiasi terhadap karya sastra profetik harus diikuti dengan meningkatnya kajian terhadapnya dengan melihat segi estetika agar menjadi kajian yang bermakna. Harapannya, sastra profetik (tak hanya sastra Islam) berkembang di Indonesia dan tidak terpaku pada teori sastra Barat. Dengan demikian, sastra profetik dapat menjadi kecerdasan kolektif yang bisa memberikan sumbangan terhadap kemanusiaan.

Daftar Pustaka

Abdul Hadi W.M. 2004. Hermeneutika Estetika dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa. Jakarta: Sadra.

Kuntowijoyo. 2006. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta: Grafindo Litera Media.

[1] Idem. Hlm 114.

[2] Abdul Hadi W.M. 2004. Hermeneutika Estetika dan Religiusitas: Esai-Esai Sufistik dan Seni Rupa. Jakarta: Sadra. Hlm 34.

[3] Abdul Hadi W.M., 2004:5.

[4] Idem. 2004:161.

[5] Idem. 2004:169, 171, 177, 183, 185, 186.

[6] Abdul Hadi W.M. 2004:7.

[7] Kuntowijoyo. 2006. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta: Grafindo Litera Media. Hlm 1-2.

 

Esai ini dilombakan dalam Lomba Esai Bulan Bahasa UGM 2019.