Kita semua pasti pernah mendengar ungkapan “say it with flowers”. Bunga merupakan simbol kasih sayang yang mewakili jutaan rasa. Sebagai simbol kasih sayang, tak elok rasanya mengungkapkan cinta tanpa memberi bunga. Pernikahan, tunangan, peresmian kegiatan, bahkan perpisahan tanpa bunga apalah artinya.

Sayangnya, mendekorasi dengan bunga hanya sebatas simbol. Bunga tak bisa menyampaikan elemen lainnya yaitu kasih sayang. Tak hanya manusia yang bereinkarnasi, pun seharusnya untuk bunga. Bunga harus punya kesempatan kedua untuk menunjukkan simbol kasihnya.

Mengapa Daur Bunga?

Banyak ide besar yang bisa diwujudkan – juga ditonjolkan – dalam kemanusiaan. Inilah kreativitas. Menemukan ide di balik hal sederhana dengan dampak luar biasa. Asal peka dengan kondisi sekitar, apapun bisa jadi ide. Talisa dan Mutia yang sering diundang ke resepsi pernikahan merasa sayang melihat bunga yang masih segar harus pensiun dini. Setelah selesai pesta, ke mana bunga-bunga itu akan bermuara?

“Karena melihat kondisi di sekeliling yang sedang terjadi dan dapat dilakukan agar langsung memberikan dampak positif, bukan mencari atau mengada-ada sesuai keinginan saja,” ujar Mutia merendah.

Motivasi mendaur bunga cukup sederhana. Mutia dan Talisa hanya ingin menggunakan kembali benda sekali pakai menjadi fungsi lainnya. Apa yang bisa diharapkan dari karangan bunga? Seperti halnya simbol bunga yang mewakili kasih sayang, donasi bunga ternyata tak hanya dalam bentuk benda kasat mata. Ada hal tak kasat mata yang didapat dari sekuntum bunga: cinta!

Bunga yang sebelumnya bertugas menjadi penghias untuk mempercantik dekorasi didaur ulang agar memberi makna berbeda. Sasarannya adalah mereka yang jarang mendapat cinta dalam bentuk bunga, seperti tunawisma, kaum marjinal, penghuni panti, dan pasien yang sakit keras di rumah sakit.

Caranya pun sederhana. Cukup dengan memilah bunga yang masih segar dan merangkainya dengan kombinasi warna. Tujuan komunitas Daur Bunga adalah melihat senyum indah dari mereka yang menerima bunga. Dengan memberi bunga, mereka merasa diperhatikan dan merasa didengarkan. Bunga pun mendapat peran baru untuk memantik senyum mereka yang papa.

“Ide untuk menggunakan kembali bunga yang digunakan sebagai dekorasi pernikahan, kemudian dijadikan rangkaian bunga yang lebih kecil dan dibagikan kepada kakek-nenek di panti werdha,” ujar Mutia yang pernah tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Arsitektur.

Kekuatan Cinta dalam Buket Bunga

Andai bunga bisa bicara, ia akan turut bahagia dirinya bisa menebar cinta. Andai bunga bisa bicara, ia akan bangga diberi kesempatan kedua. Tak sedikit cerita orang yang sakit keras bisa bertahan lebih lama karena cinta. Cinta adalah kekuatan yang menyembuhkan.

“Bunga menjadi pembuka komunikasi antara relawan dengan penerima bunga, jadi donasi bukan semata dari bentuk fisik bunga saja, namun juga waktu dan kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama,” ujar Mutia.

Pengalaman yang mengesankan adalah bunga tak hanya simbol kasih sayang. Bunga tak hanya mewakili rasa cinta. “Setelah pertama kali mendonasikan bunga, ternyata bukan hanya bunga yang menjadi nilai donasi namun perhatian yang kita berikan kepada penerima bunga, terutama kakek-nenek di panti werdha yang tidak memiliki teman untuk mendengarkan cerita hidup yang mereka miliki.” Sederhana tapi sarat makna. Mereka hanya ingin didengar. Hanya dengan mendengar kita bisa memahami. Selama ini kita belajar membaca, menulis, berbicara, tapi sudahkah belajar mendengar?

“Orang-orang di sekitar yang memberikan dampak positif dan memotivasi untuk selalu berdaya guna untuk sesama,” jawab Mutia kala ditanya mengenai pengaruh pergaulan yang mendorongnya terjun di bidang kemanusiaan.

Meski kebanyakan relawan Daur Bunga adalah perempuan, namun siapapun bisa menebar cinta melalui bunga. Pahlawan di mata Mutia adalah semua orang yang bisa memberikan manfaat dan dampak bagi sesama atau lingkungan. Bagi Mutia, semua orang dapat menjadi pahlawan dalam bidang dan skala masing-masing, tidak harus terlalu meromantisir citra ‘pahlawan’, asalkan ia dapat memberikan manfaat dan dampak positif bagi sesama atau lingkungan.

Tak ada tokoh teladan yang menjadi idola Mutia. Baginya, terlalu banyak orang yang melakukan hal-hal menakjubkan di bidang kemanusiaan, khususnya yang dapat menginspirasi sesama untuk selalu melakukan hal-hal baik dalam keseharian.

“Being a volunteer is not just to make you feel good about yourself, or having something to show off on social media. Hal yang paling utama adalah bagaimana apa yang kita lakukan dengan tulus dapat memberikan perbedaan baik terhadap kondisi yang ada, baik kepada manusia maupun lingkungan. Apa yang dilakukan tulus dari hati menghasilkan dampak yang jauh lebih bermakna dibanding mereka yang melakukan kegiatan kerelawanan dengan maksud tertentu.” Inilah yang diharapkan pendiri Daur Bunga dalam kemanusiaan. Kepuasan menjadi relawan adalah kepuasan hakiki yang tak bisa dinominalkan.

Arti Keikhlasan yang Diusung Daur Bunga

Pernahkah mempunyai teman yang ditolong malah tak tahu terima kasih? Pasti kita semua pernah mempunyai teman seperti itu. Dari situlah kita belajar keikhlasan. Dari situ jualah kita jadi tahu siapa yang paling membutuhkan pertolongan. Juga cermin untuk menilai manner sendiri.

“Perilaku orang yang berinteraksi dengan kita sebagian besar adalah cerminan dari perilaku kita pada mereka, jadi jika ada orang yang tidak tahu terima kasih mungkin karena kita merasa bahwa kita yang menolong mereka, dan tanpa sadar tidak menunjukkan tata krama yang baik dan benar. Dalam posisi orang yang memberi donasi, tak berarti kita bisa berbuat seenaknya dan merasa sombong terhadap penerima donasi. Apalagi justru kita yang membutuhkan mereka, tidak pantas jika kita merasa “di atas”. Yang penting adalah tata krama dan manner yang kita bawa dalam keseharian,” terang Mutia ketika ditanya arti keikhlasan.

Meski dampaknya luar biasa, dua perempuan muda yang sama-sama mengambil jurusan arsitektur ini tak pernah memikirkan label diri sebagai relawan atau aktivis. Mereka hanya ingin melakukan hal yang dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain dan lingkungan. Hasilnya tak hanya lingkungan yang lestari, juga persahabatan yang mekar bersama karangan bunga.

Ada lokasi donasi yang kami datangi kembali dan kakek-nenek disana beberapa masih mengingat kami dan apa yang kami lakukan, itu saja sudah cukup membuat kami bahagia,” tutur Mutia.

Relawan di Masa Mendatang, Mutia: Tak Ada Lagi Kata ‘Relawan’

Tak ada syarat untuk mejadi relawan. Menjadi relawan tak butuh keterampilan. Cukup dengan kemauan dan karakter. Keinginan untuk berbuat baik bukan karena manfaat bagi diri sendiri dan manner yang baik. Bagi Mutia, menjadi relawan bisa dilakukan di mana saja dengan aktivitas apa saja. “Skill is acquired by doing and practicing. Jika menjadi relawan/aktivis membutuhkan syarat tertentu, tentu semakin sulit dan sedikit yang bersedia menjadi relawan/aktivis.”

Apakah hal-hal seperti kerelawanan ini harus dimasukkan ke kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler? Tentu saja tidak. Kegiatan kerelawanan harus datang dari keinginan sendiri, jika hanya mengikuti kewajiban tentu akan kehilangan esensinya.

Organisasi berbasis komunitas yang berfokus pada lingkungan ini pertama kali didirikan pada 25 September 2016. Berbekal pengalaman sebagai relawan, komunitas Daur Bunga memiliki 30 orang relawan tetap dan 100 orang relawan harian di usianya yang masih sangat muda. Dalam satu kegiatan donasi, relawan terbagi menjadi relawan petik (mengumpulkan dan memilah bunga donasi) dan relawan rangkai (merangkai dan membagikan bunga donasi). Mengingat biaya operasional untuk mengantar bunga masih merogoh kocek pribadi, Mutia berencana akan melakukan kegiatan untuk mengumpulkan dana.

“Semakin banyak orang yang mau menjadi ‘relawan’ hingga kemudian tidak ada lagi kata-kata ‘relawan’ karena melakukan hal baik bagi sesama dan lingkungan telah menjadi keseharian yang tidak perlu diistimewakan dengan sebutan khusus.”

Bagi Mutia, relawan tak sepantasnya menepuk dada. Idle minds are the devil’s workshop. Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa waktu, pikiran, dan hati harus dikelola agar tak terbuang sia-sia. Pahlawan zaman now memang sudah bukan lagi memanggul senjata. Lalu, seperti apa sosok pahlawan zaman now bagi Mutia? “Berbuat hal baik bagi sesama ataupun lingkungan tanpa mengharap imbalan tertentu, dan menginspirasi sesama untuk turut melakukan hal serupa.”

Membaktikan diri pada kemanusiaan itulah karakter sebagai lukisan jiwa. Ia tak sekali jadi, tetapi harus dipupuk dan dibina sedini mungkin. Singkat kata, karakter adalah hasil dari suatu proses pembudayaan dan pelaziman. Nilai-nilai keteladanan dan kepahlawanan ini tidak diajarkan (taught) secara kognitif, tetapi ditangkap (caught) melalui penghayatan emotif dengan kehadiran suri tauladan.

Kebaikan adalah mata rantai yang tak boleh terputus. Begitu pula dengan keteladanan yang diajarkan oleh Mutia dan Talisa. Untuk itulah aku mewartakan kisah inspiratif duo gadis di balik komunitas Daur Bunga. Harapannya apa yang saya tulis tak sekadar berbagi cerita, tetapi mampu menjadi nyala. Kita tak tahu siapa yang bangkit karena terinspirasi oleh kata.

Salam kemanusiaan!

 

Kredit foto:

Daur Bunga