Membongkar Kisah Sukses Perempuan Pemburu Beasiswa Australia

Judul            : Neng Koala: Kisah-Kisah Mahasiswi Indonesia di Australia

Penulis         : Melati, dkk.

Penerbit       : Gramedia

Cetakan       : April 2018

Tebal           : 254 hlm

ISBN            : 978-602-03-8400-9

Bagi sebagian orang, melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi di luar negeri masih dianggap sebagai mimpi. Terlebih jika tinggal di pedalaman yang jauh dari informasi dan minim fasilitas yang mendukung untuk memperoleh ilmu dan kesempatan. Namun, semua itu sudah ditepis habis oleh para alumni Australia yang berkolaborasi menulis pengalamannya menjadi buku yang berjudul Neng Koala: Kisah-Kisah Mahasiswi Indonesia di Australia.

Neng Koala dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu berburu beasiswa; kisah-kisah keluarga; kehidupan kampus; keseharian di Australia; tips praktis; pertukaran pelajar, magang, short course, dan volunteering; dan kembali ke Indonesia. Masing-masing bagian menjelaskan secara rinci bagaimana memperoleh beasiswa, bernegosiasi dengan keluarga, cara beradaptasi di Australia, pentingnya mengikuti pertukaran pemuda dan organisasi kerelawanan hingga bagaimana cara menghadapi reverse culture shock sepulang dari negeri kanguru.

Bagi pejuang beasiswa yang berasal dari tempat terpencil, kita bisa belajar banyak dari perjuangan Frederika Korain dalam artikelnya Perjuangan Seorang Mama Papua Melanjutkan Studi ke Luar Negeri. Perasannya naik turun mengenai studi di Australia yang saat itu terkesan mustahil. Di tengah kehidupan yang serba terbatas dan ketegangan yang dihadapi masyarakat, pikiran tercurah sepenuhnya bagaimana bekerja dan bertahan hidup. Namun, kala menghadiri pertemuan internasional ke Eropa dan Amerika, keinginan melanjutkan studi muncul kembali. Belum lagi kehamilan yang tak direncanakan di tengah perjuangan mendapatkan beasiswa. Sungguh perjuangan yang luar biasa bagi mama Papua di pertengahan usia 30.

“Memangnya kalau sudah menikah, punya anak, dan jadi emak-emak, enggak boleh ya mengejar beasiswa? Terkadang saya sedih kalau melihat beberapa ibu yang terkesan nyinyir kalau ada emak-emak yang mau sekolah lagi. Saya yakin ini bukan masalah ego pribadi atau tanggung jawab sebagai ibu dan istri. Justru, melanjutkan pendidikan adalah salah satu cara untuk mencerahkan masa depan keluarga. Dalam ilmu sosiologi, pendidikan adalah salah satu alat mobilisasi dalam stratifikasi sosial. (hlm 23)

Pastinya penggalan paragraf Emak-Emak Mengejar Beasiswa di atas tak hanya dialami oleh Gena Lysistrata. Para emak seringkali terhadang masalah keluarga, seperti pengasuhan anak, hubungan jarak jauh dengan suami, pekerjaan, dan nyinyiran orang lain. Seolah ibu yang mengejar pendidikan tinggi dan harus meninggalkan keluarga itu egois. Padahal sekolah utama dan pendidik pertama adalah ibu.

“Bayangkan, kalau emak-emak bisa dapat beasiswa, anak bisa ikut merasakan pendidikan berkualitas, hidup yang lebih baik, dan lingkungan yang mendukung untuk bertumbuh.” (hlm 25)

Dalam artikelnya Gena juga memberikan apa saja yang disiapkan untuk melamar beasiswa ke Australia, wawancara, dan proses seleksi beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Gena juga menyampaikan pesan penting meski terkesan sepele seperti membina hubungan baik dengan (mantan) dosen dan atasan di tempat kerja sejak dini untuk meminta rekomendasi. Tak elok rasanya jika tiba-tiba meminta surat rekomendasi padahal sudah lama tak bersilaturahmi. Rekomendasi itu menentukan dalam pemberian beasiswa terlebih jika pemberi rekomendasi adalah orang yang berpengaruh.

Pesan ini juga diperkuat oleh Arry Wardhani dalam PNS Pemda Berburu Beasiswa yang mengeluhkan bagaimana hambatan yang justru datang dari pimpinan, seperti pernyataan negatif dari pimpinan mengenai pilihannya untuk studi dan meninggalkan keluarga hingga pengurusan paspor yang membutuhkan pengantar dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Ini bisa menjadi referensi bagi PNS yang ingin studi di luar negeri. “Saya sendiri pada awal pendaftaran tidak menemukan banyak kesulitan, walaupun pimpinan juga tidak memberikan dukungan yang memadai, yakni tidak memberikan arahan untuk mengisi formulir pendaftaran beasiswa tersebut. Mungkin itu justru merupakan keuntungan bagi saya karena saya bisa menyesuaikan tugas pokok saya dengan jurusan yang hendak saya ambil. Menurut saya, hal tersebut sangat penting karena berdasarkan info-info yang saya dapatkan, pengisian tugas pokok, jurusan yang diambil, dan pekerjaan sekembalinya ke tempat kerja pascabeasiswa cukup menentukan keberhasilan kita.” (hlm 38)

Jadi, jangan pernah putus silaturahmi meski sudah tidak satu instansi. Jalin hubungan baik dengan siapapun. Bangun jaringan dan koneksi agar rejeki tiada bertepi.

Dalam buku ini tak hanya perempuan saja yang berbagi cerita, laki-laki pun tak ketinggalan menulis pengalamannya ditinggal istri studi di Australia. Tulisan Bowo Sugiarto Istri Bersekolah ke Luar Negeri, Mengapa Tidak? bisa menjadi pelajaran bagi suami dalam menjalani hubungan jarak jauh dan mengatasi perbedaan kultural selepas istri pulang ke rumah. Nyatanya, rasa asing setelah istri berada jauh dari suami di luar negeri membuat pasangan harus beradaptasi lagi. Inilah salah satu ujian reverse culture shock.

“Saya yakin, sebagian besar cerita tentang pasangan yang berada dalam hubungan jarak jauh biasanya terkait dengan komunikasi. Komunikasi itu penting untuk merawat hubungan. Dari soal komunikasi ini, kami juga belajar tentang hal lain. Harus diakui, pernah timbul pikiran apakah masing-masing dapat menjadi pasangan yang setia. Akhirnya kami belajar, rasa saling percaya satu sama lain akan membuat kita tidak saling curiga dengan pasangan kita, meskipun ia berbeda ruang dan waktu. (hlm 53-4)

Bowo menekankah pentingnya komunikasi terlebih bagi mereka yang menjalani hubungan jarak jauh. Hubungan jarak dekat saja membutuhkan komunikasi yang baik apalagi jarak jauh. Pasti salah paham sangat mungkin terjadi.

“Kepulangannya kembali ke Indonesia bukan hanya membawa kegembiraan, tetapi juga pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Kini kami harus beradaptasi lagi satu sama lain. Pengalaman hidupnya selama di Australia tentu berpengaruh mulai dari persoalan yang serius sampai yang biasa-biasa saja.” (hlm 54)

Tulisan Endah Erniawati yang berjudul Berdamai dengan Keadaan sebagai Kunci Utama Membawa Keluarga Studi lebih menekankan pengalaman pribadinya bagaimana membawa anak yang masih kecil untuk studi di luar negeri tanpa pasangan dan mencari akomodasi murah di Australia.

Berdasakan pengalaman Endah, studi di luar negeri tanpa suami adalah masa yang berat karena semua hal harus diurus sendiri dan salah satu cara bertahan dalam kesulitan tersebut yang utama adalah manajemen diri sendiri. Kita tak perlu malu untuk berkonsultasi dengan psikolog. Melakukan konseling bukanlah aib karena siapapun bisa frustrasi dan depresi. Jika diri sendiri masih sulit mengontrol emosi dan waktu, sudah dipastikan studi dan pegasuhan anak akan terbengkalai.

“Dalam hal ini, saya belajar bahwa segala persiapan yang telah dilakukan kadangkala tidak berjalan sesuai rencana. Keadaan kita yang sedang beradaptasi dengan keadaan baru dan beban perkuliahan yang cukup berat bisa berpotensi memunculkan rasa frustrasi. Oleh karena itu, manajemen emosi dan berdamai dengan keadaan menjadi penting untuk kelancaran jalannya kuliah. Mereka yang merasa butuh bantuan konseling untuk manajemen stres bisa juga berkonsultasi pada psikolog di klinik kesehatan kampus.” (hlm 85)

Mencari tempat tinggal di Australia pun bukan perkara mudah mengingat banyaknya mahasiswa yang memasukkan aplikasi ke agen properti. Endah memberikan saran jitunya dan keuntungan baik bagi penghuni lama maupun bagi penghuni baru.

“Jadi, salah satu cara termudah bagi mahasiswa baru untuk mendapatkan rumah adala melakukan takeover kontrak dari penghuni sebelumnya yang biasanya adalah mahasiswa Indonesia yang sudah selesai masa kuliahnya. Ini menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bagi penghuni sebelumnya, mereka tidak perlu membuang perabotan besar sebelum pulang jika penghuni baru meyetujui untuk memakainya. Pembuangan sampah di sini cukup besar biayanya, kecuali menunggu periode dumping day yang dilakukan oleh city council setahun sekali. Sebaliknya, bagi penghuni baru, ia tidak perlu repot mencari perabotan karena bisa membelinya sdari penghuni sebelumnya dan tentunya dengan harga yang biasanya lebih murah daripada membeli di toko.” (hlm 95)

Sebagai blogger dan pemburu beasiswa, tentunya buku ini berguna sebagai referensi mengenai seluk beluk memburu beasiswa, menyiapkan akomodasi hingga bagaimana menghadapi kehidupan yang berbeda dengan kehidupan di Indonesia baik secara kultural maupun akademik. Tak hanya bagi pemburu beasiswa, buku Neng Koala juga cocok dibaca untuk suami, ayah, pimpinan perusahaan, bahkan keluarga yang anggotanya ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Neng Koala adalah buku wajib bagi mereka yang ingin menghidupkan mimpi, penjelasannya super lengkap, gamblang, dan memikat.

Terlebih di Australia yang memang memberikan kemudahan bagi perempuan untuk studi. Seperti yang ditulis oleh Kanti Pertiwi dalam Superivisor, Perempuan, dan Peradaban: “Saya baru tahu bahwa di kampus ada pembiayaan bagi perempuan yang sempat mengalami interupsi dalam kariernya karena melahirkan/merawat anak maupun anggota keluarga lainnya, yang disebut sebagai caring duties. Pembiayaan ini ditujukan untuk membantu yang bersangkutan mengejar ketertinggalan dalam karier akademis mereka.” (hlm 158)

Masih gak tertarik untuk kuliah di Australia? Jangan buang waktu, percepat hidupkan mimpimu!

Perempuan Penerima Beasiswa Australia yang Hadir dalam Peluncuran Buku Neng Koala di Universitas Binus

1 thought on “Membongkar Kisah Sukses Perempuan Pemburu Beasiswa Australia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post